“HUJAN BULAN JUNI”
(karya:Gusti
Komang Arini)
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Yang
fana adalah waktu
Kita abadi
Memungut detik demi detik,
Merangkainya seperti bunga
Sampai suatu hari kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”. Tanyamu
Kita abadi
Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Padadebu, cinta yang tinggal
Berupa bunga kertas dan lintas angka-angka
Angin untuk menerbangkan rambutmu
Aku, untuk mencintaimu
Rintik itu membangunkanku.
Mengingatkan pada sebuah tugas yang belum usai. Kugendong tas merahku menuju
tempat yang akan menghabiskan setengah hariku. Diperjalanan aku memandangi
sebuah rumah, rumah yang pintu depannya belum terbuka. Kecepatan motor kurendahkan.
Setidaknya aku bisa memandangi rumah itu walau hanya seperlima menit saja.
Setiba di sekolah ada suara
keras yang memanggilku.
"Iki
..!!!!" seru suara itu memanggil seperti aku ini seorang tunanetra.
"Biasa aja bisakan. saya kan tidak tuli”.
Mereka hanya cengegesan tak bersalah. Tia dan anggi. Dua sahabat yang
sudah seperti saudara sendiri untukku. Pertemanan kami sudah sangat lama. Kami
menuju kelas yang luar biasa jauhnya dari gerbang. Kami harus melewati lapangan
upacara, lapangan voli dan lapangan futsal untuk mencapai kelas yang pengap itu.
Untungnya kami sudah kelas 3, Jadi kami tak segan melewati lorong kelas lain.
Seperti biasa, 6 jam di tempat ini sudah sekurang kurangnya 810 hari kami
melewatinya. siang ini sangat panas. Rasanya sejumlah asap sudah keluar dari
masing masing siswa. Jika sebuah telur mendarat di kepala kami. Aku yakin sudah
menjadi telur ceplok yang sangat lezat.
“ Aagghh
laparnya”. Seruku dalam hati.
Aku, tia dan anggi pulang tak searah. Rumah kami akan dipisahkan dengan
sebuah perempatan depan sekolah. Ku hadapi siang ini dengan doa agar jarak
rumahku dengan sekolah setidaknya bisa diperdekat. Tak lama aku sudah tiba di
rumah. Kurebahkan tubuh yang tak seberapa tinggi ini.
"Iki..
sini sebentar" ibuku memanggil
"Iya
ma".. sahutku singkat "kenapa?"
"Antar
mama ke rumah kak adi ya"
"Ngapain
ma?"
"Kak
adi kan baru pulang!" seru ibuku santai
"Apa??"..
aku kaget.
Oh iya. Soal kak adi ini. Dia adalah sosok pria yang sangat aku kagumi
sejak aku SMP. Dia tinggal satu komplek denganku. Hanya saja dia sekarang
sedang kuliah di luar kota. Sangat jarang untuk bisa melihatnya di rumah. Dan
soal rumah tadi pagi itu. Ya, itu rumahnya kak adi.
Sorenya aku dan ibu berkunjung kerumah kak adi. Namun sayangnya kak adi
tidak ada.
“Keluar katanya" kata ibunya.
Aku kecewa. Rinduku ingin melihat
wajahnya, namun tak kunjung aku jumpa juga.Sekitar dua jam ibuku dan ibu kak
adi berbincang. Aku hanya duduk menatap rangkain kata yang mereka ucapkan.
Entah apa maknanya. hatiku hanya menggerutu kesal karena kak adi tidak ada.
"Iki,
ayo pulang". ibuku membangunkanku dari lamunan. Aku hanya menangguk tak
bermakna.
Saat keluar rumah, ada sosok yang jauh lebih tinggi di hadapanku.
"Iki,
kamu sudah besar ya..” itu kak adi. Tangan hangatnya mengacak- acak rambutku.
Oh tuhan jantungku rasanya ingin meledak. Entah sudah semerah apa wajah ini.
Aku hanya menunduk tak berani menatapnya.
"I..iya
kak. Kakak a..a.apa kabar?" tanyaku dengan gugup.
"Baik,
kamu sudah mau pulang kenapa cepat?" tanya kak adi hangat
"I..i..iya"..
astaga kenapa mulutku jadi kelu begini. Tolonglah kenapa kepalaku tak mau
terangkat. Aku ingin melihat wajah tampan kak adi.
Singkatnya, aku sudah di rumah. dan selama di rumah aku hanya mengutuk diriku
yang kelu di hadapan kak adi. hari demi hari aku lalui dengan hanya berani
memandangi wajah kak adi di depan rumahnya. Bahkan aku hanya mencari alasan ke
toko yang di dekat rumah kak adi. Hanya untuk melihatnya. Walau tak puas.
Pernah waktu itu, sudah beberapa hari aku tidak melihat kak adi di rumahnya.
Aku fikir kak adi sudah kembali kembali kuliah, tapi sering kali motor birunya
itu terparkir dengan rapi di halaman rumahnya. Dari pada aku penasaran, pelanga
pelono seperti orang gila setiap lewat di depan rumah kak adi, aku menghampiri
ibuku .
"Ma,
kak adi sudah balik ke kampusnya" tanyaku memberanikan diri.
"Belum,
kemarin mama lihat dia kok" sahut ibuku sembari mengayun ayunkan sapunya.
"Tapi
ma," bantahku
"Kenapa
kamu tanya kak adi. Ada perlu sama dia?"
"Tidak
ma, tidak, cuma tanya saja..” tunduku malu ditatap ibuku.
Esoknya, disekolah seperti biasa aku, tia dan anggi sedang duduk di bawah
pohon akasia yang beruntungnya tumbuh subur di depan kelas kami.
"Eumm..
tia, anggi" tegurku memecah tawa mereka
"Kenapa
ki?" Sahut tia
"Aku,
aku.. aduh gimana cara ngomongnya ya"
"Kenapa
sih?". Sahut mereka kompak
"Kalian
tau kan, rumah warna biru sebelum rumahku"
"Iya,
kenapa sama rumah itu?" tanya anggi penasaran
"Aku
suka sama cowok, dia tinggal di rumah itu" kataku dengan sejuta malu
"Apa,
seriusan,? Tanya anggi
"Ganteng
kan ki, katismatik atau gimana?" sambung tia penasaran
"ih
kalian apa sih, aku juga bingung tau. Terus aku harus gimana"
"Orangnya
gimana sih ki, bikin penasaran aja"
"Tia,
nanti kita harus intai yang mana cowoknya" tegas anggi
"Sedelapan..
pokoknya kita wajib tau" semangat tia menimpali
"setuju
tia.. bukan sedelapan" jawabku dan anggi kompak
Sorenya tiba tiba bel rumahku berbunyi. Ternyata itu adalah anggi dan
tia.
"Tumben
ke sini, ada apa" tanyaku tanpa mempersilahkan mereka masuk
"Tadi
kita lewat di rumah biru itu, tapi tidak ketemu ada cowok" gerutu tia
"Iya,
aku juga akhir akhir ini tidak lihat dia" sahutku
"Padahal
sudah penasaran bagaimana modelnya, jauh jauh kesini tapi tidak ketemu"
timpal anggi agak kesal
"menurut
kalian.. perasaanku ini salah atau tidak" tanyaku gugup
"Kenapa
harus salah ki. Masa orang jatuh cinta salah sih" sahut tia cepat
"Masalahnya
aku juga bingung. Dia baik banget sama aku. Perlakuannya hangat. Jangan jangan aku
cuma salah paham sama perlakuan dia" kataku
"Coba
aja dulu. Kalau tidak, Kamu bilang langsung sama dia" saran anggi
"Gila
ya kamu, masa riski duluan yang bilang" sahut tia tak terima
"kenapa
jadi kalian yang repot sih" sahutku sinis
"Yaudah
kita pulang ya, kamu fikirkan aja dulu. Yang terbaik buat kamu gimana"
kata anggi menenangkanku
"Iya.
Hati hati" jawabku santai
Mereka sudah pulang. Tidak lagi aku dengar Bunyi moyor mereka yang agak
berisik itu. Kurebahkan tubuhku di tempat tidut empuk kesayanganku. sebenarnya
aku masih bingung dengan keputusan apa yang harus aku ambil. Sampai tak sadar
aku terlelap dengan sendiri.
"Astaga..”
teriakku kaget
"Selamat
pagi riski" sapanya dengan hangat lengkap dengan senyum manisnya.
Itu kak adi. Dan aku berpenampilan kucel di hadapannya.
entah aku harus menitipkan dimana wajahku setelah ini
"mama ada ki?".. tanyanya
"A..a..ada kak. masuk dulu. Mama ada di dalam".. seperti
biasa aku tak akan sanggup menatap kak adi. Jadi aku hanya menjawab dengan
wajah tertunduk.
setelah mempersilahlan kak adi duduk. Dengan kecepatan kilat ditambah
petir aku berlari ke kamar mandi dan bersiap siap. setengah jam kira kira. Aku
masih mendengar suara kak adi samar samar di ruang tamu sedang berbincang dengan ibuku.
"Suaranya
sangat indah" seruku diam diam dari balik tirai Memperhatikan wajahnya
yang sangat sejuk. Seperti mendapat bibit kacang ajaib. Aku sampai lupa
membuatkan munum untuk kak adi. Tak lama kemudian kak adi pamit pulang. Dan
aku, Ya aku masih dalam posisi di balik tirai.
"Bahas
apa ma, kak adi bilang apa saja, kenapa lama ma?" Tanyaku penasaran pada
ibuku
"Bicara
soal pawai. Minggu depan kan ada pawai" jawab ibuku menuju dapur
Ingatanku terputar. Kenapa aku bisa lupa dengan pawai rutin yang hanya di
lakukan setahun sekali di lingkungan ini. Malamnya aku hanya memikirkan pawai
itu. Sudah aku rancang dengan matang sematang buah sawo yang matang bagaimana
nanti saat pawai berlangsung. Jantungku berdebar sangat cepat. Mungkin bisa
digunakan untuk mengisi bak mandi ukuran 1 x 1 jika jantungku di gunakan untuk
memompa air.
Seminggu telah berlalu. Tiba saatnya hari pawai itu tiba. rombongan
komplek kami berkumpul di lapangan. Sudah bisa di tebak apa yang aku lalukan.
Tentu saja mencari sosok kak adi. Pawai berlangsung dengan sangat meriah.
Selama pawai, tatapanku hanya tertuju dengan senyum manis kak adi. Kadang dia
luput dari pandanganku, dan entah karena apa aku selalu mencarinya seperti
orang gila. Selama pawai aku selalu bersama anggi. Tia, entah sakit perut
katanya. Tak terasa waktu berlalu begitu singkat, sudah hampir jam 9 malam, aku
pulang bersama keluargaku.
Di dalam kamarku yang hanya berukuran 2x3 aku berfikir, aku memantapkan
diri apakah aku akan melanjutkan perasaan ini atau aku hanya akan memendamnya
saja. Hingga akhirnya aku punya fikiran untuk melanjutkannnya. Kutelusuri semua
social media kak adi. Dari akun facebooknya, hingga nomor telfonnya sudah ku
dapat semua. Kini aku hanya tinggal menghubunginya, tapi rasanya hatiku belum
mantap untuk mengakui perasaan ini. Satu minggu kurang lebih setiap harinya aku
hanya memandangi akun facebooknya itu tanpa berani memulai sebuah obrolan.
Hingga lampu lampu jalan itu di padamkan, kabarnya masih belum kudapatkan.
Hari demi hari berlalu begitu saja, mungkin aku sudah lupa atau memang
aku yang ingin lupa akan perasaan ini. Hari itu, aku lupa tepatnya hari apa
setelah aku pulang sekolah kulihat selembar kertas undangan terletak diatas
meja di ruang tamu. Dengan gaya santai aku membaca undangan itu. Baru kali ini
juga aku penasaran dengan sebuah undangan. Biasanya aku hanya acuh tak acuh
dengan surat undangan, tapikali ini aku sangat penasaran. Kubaca dengan seksama
hingga akhirnya mataku tertuju pada nama Adi Putera. Mataku memanas, hatiku
rasanya aneh, seperti mendapat tikaman tak kasat mata yang merangkul lalu
menusuk. lantai tempatku berpijak sekarang rasanya sedang terguncang. Aku jatuh
tertunduk seketika, aku belum mencerna apa yang aku baca saat ini.
Ini sungguhan, mataku tak berbohong. Pernikahan itu memang benar adanya.
Rumah kak adi sudah mulai ramai, ibuku juga ikut membantu mempersiapkan pesta
pernikahan disana. Tak enak makan, tak enak beraktifitas, itulah yang aku
rasakan saat ini. Setiap membayangkannya, otakku selalu penuh dengan
penyesalan. Kenapa harus kak adi, kenapa harus laki laki itu, kenapa harus
cinta pertamaku?.
10 juni, tak akan aku lupakan mungkin setiap detiknya hari ini. Ya, saat
kak adi akan menjadi milik orang lain. Aku datang, bersama ibu dan ayahku
tentunya. Dengan telinga menuli,mata memanas dan hati lebam-lebam, dengan berat
hati aku berada di sana. Selama di pesta pernikahan itu, aku tak berani menatap
wajah kak adi. Walau sesekali kucuri pandang padanya. Sungguh indah, wajah
tampan kak adi dilengkapi dengan pakaian adat khas jawa itu membuatnya seribu
kali lebih tampan. Dan hariku selanjutnya, yah begitulah, Hanya berlalu seperti
ini saja. Hari hariku dengan perasaan ini sudah usang. Hancur bahkan. Sejak
saat itu aku belum pernah berani lagi untuk mencintai seseorang, belum pernah
ada yang membuka hatiku lagi. Namun aku sadar, sesuatu yang berlebihan
kebanyakan akan membawa dampak buruk. Aku masih remaja, SMA saja belum lulus,
lalu mengapa aku harus membawa hidupku pada hal yang tak terlalu penting. Dan
aku tersadar aku masih mempunyai cinta yang lebih besar dari keluargaku, dari
sahabatku.
Begitulah kisah cinta pertamaku. Sebuah kisah yang akan menjadi suatu
pelajaran yang bermakna. Tak indah memang, tidak penuh dengan drama seperti
kisah cinta orang lain. Namun aku menganggapnya sebagai suatu petualangan yang
sangat menyenangkan. Menganggapnya sebagai suatu tantangan yang menjadi peluang
emas untuk berkembang.
“sesuatu yang nyata tidak harus selalu memerlukan bukti. Cukup
mempercayai hal tersebut kadang itu akan cukup”

The best of best. Cerita + penyusunan kalimat, pharagraf dan semuanya, saya suka!!!
BalasHapus🤗🤗🤗🤗
Hapus