Ikhlas Mencintaimu
By Dwi Puspita
Matahari menampakan sinar kemerahan dari balik
awan, yang berarak disudut barat. Sinar matahari itu sayu,mencoba meneduhkan
hati ini yang sedang merindukannya. Aku adalah seorang kekasih yang merindukan
suatu hari dimana datang seorang pria, dengan membawa kerinduanku bersamanya.
Awalnya, aku mengira hidup sederhanaku ini sudah sempurna. Namun, nyatanya
tidak karena tanpa kehadirannya disisiku, hingga aku memutuskan untuk
menyusulnya ke Amerika.
Hari ini tepat pada tanggal 06
november 2018 adalah hari keberangkatanku ke Amerika dan aku segera bergegas
pergi kebandara. Aku sengaja datang lebih awal kebandara karena aku terlalu
bersemangat untuk segera bertemu dengan pria yang aku cintai. Setelah beberapa
lama menunggu akhirnya pesawat yang kutumpangi akan mengepakan sayapnya yang
terbang melawan arah angin. Betapa bahagianya aku membayangkan akan bertemu
dengan pria yang aku cintai. Beberapa jam berlalu akhirnya pesawat yang aku tumpangi
“Landing” di Bandar Udara Los Angeles.
Hal yang aku pikirkan pada saat itu adalah
ingin segera bertemu dengan pria yang aku cintai. Tanpa aku berpikir panjang,
aku segera pergi ke apartemen tempatnya tinggal. Aku membayangkan betapa
terkejutnya dia nanti melihatku ada disini, ya aku tak memberitahukan dia
tentang keberangkatan diriku menemui dirinya. Namun sayang beribu sayang hal
yang aku bayangkan tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Dia tak ada di
apartemennya, aku berpikir positive, mungkin saja dia sedang masuk kuliah. Karena
kesalahanku juga, tak memberitahukan tentang keberangkatanku. 5 jam berlalu,
aku menuggu dirinya di depan apartemennya. Namun tak ada tanda-tanda dia akan
datang, aku memutuskan untuk menelponnya, namun dia tak kunjung menjawab
telponku. Hatiku mulai gelisah dan bertanya dalam hati “dimanakah dirimu sayang
kuharap dirimu baik-baik saja”.
Hingga aku, memutuskan untuk bertanya
dengan salah satu tetangga rumahnya. Aku menemui seorang wanita, yang sedang
duduk di halaman rumahnya dan bertanya “excuse me do you know the whereabouts of a men who lives
there” sambil menunjuk kearah apartemen pria yang aku cintai. Wanita itu
terdiam mematung, mendengar pertanyaanku, hingga keluar kalimat, yang sangat
menyedihkan dari mulutnya, dia berkata “the man was in the hospital due to an
accident that happened last night”. Kaki ini gemetar, mendengar kabar yang tak pernah
inginku dengar, butiran air mata membasahi pipiku, dan mulut ini tak bisa
berkata-kata lagi. Hal yang aku harapkan aku akan bertemu dengannya membagi
keluh kesahku selama aku jauh darinya. Hilang lenyap seketika bersama angin
malam yang berhembus. Dengan keadaan yang sangat kacau, aku pergi menemui pria
yang aku cintai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, aku bertanya dengan
salah satu suster disana dan bertanya “excuse me if there is a patient who had
accident last night” suster berkata “wait a minute, I’il check it out. Please
apologize where the patient comes from”. Saya menjawab “he is from Asia
(Indonesian)”. Setelah beberapa lama
menunggu, akhirnya dia memberitahukan bahwa pria yang aku cintai itu berada
dikamar 324 lantai 3.
Tanpa aku rasa, kaki ini langsung
melangkah bergegas, menuju kamar itu dengan penuh air mata yang membasahi
pipiku. Aku membuka pintu kamar, tempat pria yang aku cintai dirawat. Aku
melihat tubuh seorang pria yang aku cintai terbaring lemah tak berdaya, dengan
penuh luka disekujur tubuhnya, dan begitu banyak kabel yang terpasang
ditubuhnya. Aku menangis histeris, melihat keadaannya seperti itu. Dan aku
bertanya-tanya ”mengapa semua ini terjadi pada dirimu, aku tak sanggup melihat
keadaanmu seperti ini”. Seorang pria datang menepuk pundakku, dan berkata
“tenangkan dirimu semua akan baik-baik saja, sambil menghapus air mataku” dia
Andre, kakak dari pria yang aku cintai. Dia mengajakku untuk duduk, dan dia
bertanya “kapan kamu datang kesini, mengapa kamu tidak memberitahu kakak jika
kamu akan datang kesini”. Aku menjawab “aku datang tadi kak, aku ingin memberikan
kejutan kepada adik kakak”. Dan saya bertanya balik kepada kak Andre “mengapa
kakak tak memberitahuku tentang keadaannya yang seperti ini, apakah kakak tidak
memikirkan perasaan diriku”. Dengan suara yang gemetar. Lalu kak Andre menjawab
“bukannya kakak tidak memikirkan perasaanmu, namun kakak takut jika kamu
mengetahui hal ini, kamu tidak bisa mengontrol dirimu, seperti apa yang kakak
lihat tadi”. Aku kembali menjawab “tapi kak.....” belum selesai aku berbicara
kak Andre memotong pembicaraanku dan berkata “sudahlah lebih baik kamu berdoa
kepada tuhan, agar ia cepat pulih dan tersadar dari komanya”. Aku sontak kaget
mendengar ucapan kak Andre yang mengatakan bahwa pria yang aku cintai sedang koma.
Hari demi hari, terus berlalu aku
menjalani semuanya dengan penuh semangat, dan percaya bahwa pria yang aku
cintai akan baik-baik saja. Setiap hari, aku datang menjenguknya kerumah sakit,
dengan penuh harapan bahwa dia akan membuka matanya. Namun, aku pesimis melihat
keadaannya seperti itu, yang tak menunjukkan tanda-tanda ia akan sadar dari
komanya. Hingga disuatu hari dering telponku berbunyi, kring-kring-kring aku
segera mengambilnya dan mengangkatnya terdengar suara seseorang yang tak asing
ditelingaku, ya mereka adalah orang tuaku, mereka berkata “hallo nak, dimana
kamu sekarang?, apakah kamu baik-baik saja?, mengapa kamu tak memberitahu kita
tentang keberadaanmu?, sebenarnya apa yang terjadi pada mu?” aku diserang
dengan pertanyaan yang begitu banyak dari mereka , ya aku tahu bagaimana kekhawatiran
orang tua terhadap anaknya. Dan aku menjawab “hallo ma, pa, aku sekarang ada di
Amerika, ya aku baik-baik saja, maaf ma, pa, aku tak memberitahukan kalian
tentang keberangkatanku”. Mereka berkata “syukurlah tak terjadi sesuatu buruk
yang terjadi pada dirimu, apakah kamu kesana untuk menemui kekasihmu nak?”
tanya mereka. Aku menjawab “ya aku kesini untuk menemuinya, namun ma, pa
sesuatu buruk terjadi pada dirinya, sekarang dia sedang koma akibat kecelakaan yang ia alami”. Mama
dan papa sontak kaget dengan perkataanku. Dan mereka berkata”semoga saja tidak terjadi suatu hal yang buruk, dan cepat
pulih dari komanya, baiklah mama dan papa akan menutup telponnya dulu,jaga
dirimu baik-baik disana ya nak”. Aku menjawab “baiklah ma,pa terima kasih ya atas
doanya”. Telpon kamipun terputus.
5 tahun kemudian, pria yang aku cintai
terbangun dari komanya, betapa senangnya diriku, melihatnya tersadar dari koma.
Setelah 5 tahun, terbaring di atas kasur rumah sakit, yang sangat tidak nyaman
itu. Aku langsung memeluknya sambil meneteskan air mata. Namun, aku sangat
terkejut, saat ia menyebut nama seorang wanita berulang kali. Namun, nama itu
bukan aku, bukan juga ibunya ataupun kerabatnya yang lain. Pada saat itu aku
langsung memanggil Dokter, untuk memberitahukan bahwa, pria yang aku cintai
telah tersadar dari komanya setelah 5 tahun. Dokter datang dengan beberapa
suster. Merekapun mengecek kondisi, pria yang aku cintai. Dokter berkata “this
is a miracle. From god, after 5 years he finally realized from his coma, now we
just have to wait for his recovery”. Betapa senangnya aku mendengar ucapan dari
dokter, dan aku berkata “thank you so much doctor”. Dokter dan susterpun
meninggalkan ruangan itu. Aku menatap wajah pria yang aku cintai, dan ia
tersenyum menatapku. Kemudian kak Andre datang, dan ia sangat senang melihat
adiknya tersadar dari komanya. Dan ia mulai mengobrol dengan pria yang aku
cintai, kak Andre berkata “bagaimana keadaanmu sekarang”. Pria yang aku cintai
menjawab “ aku sudah agak mendingan kak, namun kepalaku masih sangat sakit”.
Lalu kak andre berkata “baiklah sekarang kamu harus istirahat”. Kemudian pria
yang aku cintai menyapa dan bertanya padaku, dia berkata “hey apa kabar, kapan
kamu datang kesini, aku sangat senang karena kamu ada disini”. Akupun menjawab
dengan perasaan senang “aku baik-baik saja, aku sudah 5 tahun berada disini,
menemanimu pada masa sulitmu”. Namun seketika wajah pria yang aku cintai
berubah menjadi sedih. Aku tak paham, apa yang sebenarnya terjadi, selama aku
tak berada disisinya. Ada begitu banyak pertanyaan dalam hatiku. Lalu setelah
beberapa saat, pria yang aku cintai berkata “terima kasih karena kamu telah
menemani dan merawatku selama 5 tahun terakhir ini”. Akupun menjawab “mengapa
kamu mengucapkan terima kasih ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang kekasih”. Namun betapa
hancurnya hatiku saat, pria yang aku cintai berkata “tapi maaf, aku sebenarnya
telah menikah”. Aku langsung menjawab “kamu jangan bercanda dong, kamu mau
ngerjain aku ya”. Tapi dengan wajah yang sangat serius dia berkata “aku serius,
aku tidak sedang bercanda”. Lalu aku menjawab “apa buktinya jika kamu sudah
menikah, lalu mana istrimu”. Setelah mendengar pertanyaanku dia menunjukan
cincin pernikahannya, sebagai tanda bukti. Lalu kak Andrepun menjelaskan
kepadaku tentang keberadaan istri dari pria yang aku cintai dan ia berkata
“sekarang istri dari Arya sedang dirawat karena ia juga sedang koma akibat
kecelakaan yang ia alami bersama Arya, namun ia ditemani dengan orang tuanya,
kakak sengaja tak memberitahumu tentang ini karena kakak ingin Arya yang
menjelaskannya sendiri kepada kamu ”. Betapa hancurnya perasaanku pada saat
itu, aku langsung lari pergi meninggalkan ruangan itu. Aku menuju kesebuah
jembatan sempat terlintas dibenakku untuk melakukan tindakan bunuh diri. Pada
saat aku akan melompat, ada tangan seorang laki-laki yang menarik tanganku dan
laki-laki itu adalah kak Andre. Dia menjelaskan mengapa pria yang aku
cintai sampai menikah dengan wanita
lain. Akupun mencoba memahaminya, dan kembali menemuinya pada saat itu aku
melihat sudah ada seorang wanita ada disana dan wanita itu adalah istri dari
pria yang aku cintai ternyata ia sudah tersadar juga dari komanya. Akupun
mencoba terlihat tegar dihadapan mereka dan aku menyatukan kedua tangan mereka.
Lalu aku berkata kepada pria yang aku cintai “ Aku ikhlas mencintai mu selama
ini semoga kamu bahagia bersama istrimu”. Walau sulit kuterima kepahitan ini
menunggu tapi tak ditunggu, menyayangi tapi tak disayangi, mencintai namun tak
dicintai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar