Cinta Tanpa Wujud
by Jumria
Begitulah hari yang terus berlalu. dia tak pernah berhenti mencinta
bunga, gadis yang memiliki nama yang paling indah menurutnya. Dia tak pernah
tau mengapa perasaannya tak bisa lepas dari bunga. Bunga yang telah bisa mengubah
perasaannya. Perasaan yang entah kapan datang setelah bertemu dengan bunga.
Dia
begitu mencintai bunga. Gadis yang membuat jantungnya seakan berpacu bagai
dalam perlombaan lari maraton. Dia seakan ingin berbisik di telinga indah bunga,
bahwa ia telah berhasil membuat dia begitu mencintainya. Tapi dia sadar, bunga
telah di miliki orang lain, orang yang paling dia benci karena telah membuat
bunga jatuh cinta padanya. Dia kadang ingin memberikan sesuatu pada bunga.
Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tak pernah orang itu berikan pada bunga.
Agar bunga akan beralih untuk mencintai dia. Tapi pikiran dia seakan melarang.
Melarang untuk mengambil bunga dari orang itu. Bunga terlihat bahagia dengan
orang itu. Dia tak ingin orang itu merasa bahwa dirinya jahat karena telah
merebut bunganya.
Di
bawah terpaan angin dingin yang menusuk kulitnya. Pikiran dia seakan tak ingin
lepas dari bayangan bunga, gadis dengan sejuta kelebihan. Cinta dia saat ini
tak berarti apa-apa, tanpa wujud. Dia tak bisa memberikan sesuatu pada bunga
sebagai wujud cintanya. Hingga saat ini, dia tak ingin jauh dari bunga. Dia
ingin melihat bunga meskipun dari jauh. Seakan ada tali yang mengikat matanya
untuk melihat bunga, karena hal ini dia sering dianggap sebagai orang yang
cabul karena selalu memandangi bunga. Tapi itu tak masalah. Dia seakan tuli
jika itu mengenai dirinya. Dia tak perduli, asalkan matanya selalu bisa
memandang bunga.
Dia tak
pernah tau kehidupan yang akan datang seperti apa. Tapi bolehkah dia berharap
suatu saat bunga akan melihat dia dan mencintainya. Dia akan selalu mencintai
bunga, akan selalu menyimpan rasa itu untuk bunga meskipun perasaan itu tak
akan sempurna untuk waktu yang akan datang. Dia tau bunga telah di miliki orang
lain. Tapi apakah salah? Semua orang punya hak untuk mencintai. Mencintai orang
lain. meskipun orang yang di cintai telah di miliki orang lain. Hingga suatu
ketika, cintanya seakan memudar setelah dia mendengar bahwa bunga akan menikah.
Kata "menikah" tak pernah di pikirkan oleh dia. Kata yang akan
membuat cintanya dengan mudah memudar begitu saja. Dia sakit, kecewa tak tau
mengapa cintanya harus berakhir tanpa wujud yang tak akan pernah diberitahu
kepada bunga.
Di malam
yang gelap, hujan turun tanpa aba-aba, membawa semua cinta yang di miliki oleh
dia untuk bunga. Cinta yang selama ini dia simpan. Sekarang ini hancur tak
berbentuk. Dia seakan gila karena cintanya kini hanya kesia-siaan. Dia tak tau
haruskah dia benar-benar berhenti mencintai bunga tanpa wujud ataukah terus
mencintainya dalam kesakitan yang entah kapan harus merasakan sakit dan kecewa.
Hujan semakin deras dan dia semakin merasakan sakit. Entahlah pikiran dia
seakan kosong. Dia berjalan sempoyongan, tak tau dimana dia harus menceritakan
sakitnya.
Hari
berganti hari, tak terasa seminggu berlalu. Dia tak pernah lagi melihat bunga.
Matanya seakan sakit jika harus melihat bunga yang akan menjadi istri orang
lain. Dia tak tau cintanya kepada bunga apakah masih ada atau sudah hilang
bersama hujan. Hatinya seakan ingin bergerak, berjalan mencari bunga. Untuk
membuktikan apakah hatinya masih sama. Masih sama mencintai bunga atau sudah
tak lagi. Tapi kakinya seakan kaku, seakan baru saja keluar dari pendingin es.
Bunga tak tau cinta itu telah membekas dihati dia, bahkan untuk menghapusnya
begitu sulit. Dinding-dinding hati dia seakan rusak, karena terlalu berusaha
menghapusnya. Cinta itu menyakitkan baginya. Dia tak tau mengapa dia begitu
mencintai bunga. Kenapa dia bisa sebodoh itu, seharusnya dia sadar, tapi dia
malah terus mengulangi kesalahan itu.
Kini dia
tak bisa berkutik, berdiam di lingkaran yang mengerikan, lalu di pandang dengan
senyum yang menyedihkan. Lalu bunga? Berdiri tegap tak tau apa yang terjadi
dengan lelaki yang mengaguminya, hidup bahagia lalu pergi.
Di sebuah
kursi panjang yang tersedia di taman, dia duduk. Di hadapannya banyak anak-anak
yang sedang bermain bersama teman-temannya. Dia seakan bermimpi suatu saat dia
akan memiliki keluarga bersama bunga, gadis pujaannya dan memiliki keluarga
yang bahagia bersama anak-anaknya. Tapi perlahan tapi pasti, mimpi itu seakan
hilang bak di telan bumi. Mimpi itu tak
akan bisa menjadi nyata, karena bunga akan menjadi istri dari orang lain. Dia
sadar, itu semua terjadi karena kebodohannya sendiri. Dia tak pernah bisa untuk
memberitahukan kepada bunga bahwa dia mencintainya. Tapi kini, dia hanya dapat
menyesali semua kebodohan yang pernah dia lakukan. Kini dia harus diam,
cintanya sudah tak lagi sama terhadap bunga. Dia sadar, dia tak boleh lagi
mencintai istri orang lain. Dan sekarang dia akan menunggu bahwa suatu hari
cinta akan datang untuknya bahkan akan lebih besar meskipun bukan dengan wanita
yang sama.
Kata orang,
cinta pertama biasanya akan gagal. Dulu dia tak pernah percaya dengan kata-kata
itu. Hingga suatu ketika kata-kata itu menjadi suatu kenyataan. Kata-kata itu
seakan terngiang di otaknya. Dia pernah berharap cintanya tak akan hilang untuk
bunga. Tapi harapan itu seketika hancur karena satu kata yaitu
"menikah". Dia benci dengan kata itu. Karena kata-kata itulah
cintanya kini hancur dan hilang tanpa jejak dan tak kembali meskipun dia telah
mencarinya.
Sudah satu
tahun sejak dia melupakan cintanya untuk bunga. Gadis dengan kecantikan yang
tak ada duanya, menurutnya. Dia kini duduk di atas pasir dan di hadapannya
telah disuguhkan pantai dengan angin yang segar. Dia seketika diam ketika
mengingat semua kisah cintanya tanpa wujud yang sudah mati satu tahun lamanya.
Dia tak lagi menjadi dirinya satu tahun yang lalu. Dia telah berubah menjadi
orang yang dingin, kaku tanpa ekspresi. Hatinya telah berubah menjadi batu yang
tak tau siapa yang akan bisa melelehkan hatinya yang beku karena cinta masa
lalunya. Dia tak lagi bisa menarik bibirnya untuk memperlihatkan senyumannya
kepada orang lain. Senyumannya telah hilang bak di telan bumi. Telinganya tak
lagi bisa mendengar apa yang di bicarakan orang lain, meskipun itu hal baik
untuknya. Telinganya seakan tuli, sejak dia mendengar bahwa bunga akan menikah.
Hingga suatu
ketika, cinta yang telah lama hilang itu kembali hadir dengan gadis yang
berbeda. Cinta itu datang lagi tanpa permisi. Dia tak pernah tau, mengapa waktu
membawanya bertemu dengan gadis yang berbeda tetapi cinta sama. Cinta yang
sama-sama besar. Yang entahlah apakah cinta itu akan bertahan lama ataukah
hanya akan datang lalu pergi tanpa tau apakah hati yang ditinggalkan sakit atau
tidak. Entah kenapa gadis itu membuat dia seakan tak mau lepas untuk berhenti
memandangnya sama seperti dengan bunga, gadis yang entah sekarang kabarnya tak
terdengar lagi. Entah doa siapa, cintanya kini sangatlah berharga bagi dia.
Cinta yang diberikan oleh gadis itu. Gadis itu seakan telah membuang bunga dari
hati dia. Gadis itu telah berhasil mencairkan hati yang telah beku karna cinta
lamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar