Senin, 26 November 2018

Cinta tanpa wujud by Jumria


Cinta Tanpa Wujud
by Jumria



               Begitulah hari yang terus berlalu. dia tak pernah berhenti mencinta bunga, gadis yang memiliki nama yang paling indah menurutnya. Dia tak pernah tau mengapa perasaannya tak bisa lepas dari bunga. Bunga yang telah bisa mengubah perasaannya. Perasaan yang entah kapan datang setelah bertemu dengan bunga.
               Dia begitu mencintai bunga. Gadis yang membuat jantungnya seakan berpacu bagai dalam perlombaan lari maraton. Dia seakan ingin berbisik di telinga indah bunga, bahwa ia telah berhasil membuat dia begitu mencintainya. Tapi dia sadar, bunga telah di miliki orang lain, orang yang paling dia benci karena telah membuat bunga jatuh cinta padanya. Dia kadang ingin memberikan sesuatu pada bunga. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tak pernah orang itu berikan pada bunga. Agar bunga akan beralih untuk mencintai dia. Tapi pikiran dia seakan melarang. Melarang untuk mengambil bunga dari orang itu. Bunga terlihat bahagia dengan orang itu. Dia tak ingin orang itu merasa bahwa dirinya jahat karena telah merebut bunganya.
               Di bawah terpaan angin dingin yang menusuk kulitnya. Pikiran dia seakan tak ingin lepas dari bayangan bunga, gadis dengan sejuta kelebihan. Cinta dia saat ini tak berarti apa-apa, tanpa wujud. Dia tak bisa memberikan sesuatu pada bunga sebagai wujud cintanya. Hingga saat ini, dia tak ingin jauh dari bunga. Dia ingin melihat bunga meskipun dari jauh. Seakan ada tali yang mengikat matanya untuk melihat bunga, karena hal ini dia sering dianggap sebagai orang yang cabul karena selalu memandangi bunga. Tapi itu tak masalah. Dia seakan tuli jika itu mengenai dirinya. Dia tak perduli, asalkan matanya selalu bisa memandang bunga.
             Dia tak pernah tau kehidupan yang akan datang seperti apa. Tapi bolehkah dia berharap suatu saat bunga akan melihat dia dan mencintainya. Dia akan selalu mencintai bunga, akan selalu menyimpan rasa itu untuk bunga meskipun perasaan itu tak akan sempurna untuk waktu yang akan datang. Dia tau bunga telah di miliki orang lain. Tapi apakah salah? Semua orang punya hak untuk mencintai. Mencintai orang lain. meskipun orang yang di cintai telah di miliki orang lain. Hingga suatu ketika, cintanya seakan memudar setelah dia mendengar bahwa bunga akan menikah. Kata "menikah" tak pernah di pikirkan oleh dia. Kata yang akan membuat cintanya dengan mudah memudar begitu saja. Dia sakit, kecewa tak tau mengapa cintanya harus berakhir tanpa wujud yang tak akan pernah diberitahu kepada bunga.
              Di malam yang gelap, hujan turun tanpa aba-aba, membawa semua cinta yang di miliki oleh dia untuk bunga. Cinta yang selama ini dia simpan. Sekarang ini hancur tak berbentuk. Dia seakan gila karena cintanya kini hanya kesia-siaan. Dia tak tau haruskah dia benar-benar berhenti mencintai bunga tanpa wujud ataukah terus mencintainya dalam kesakitan yang entah kapan harus merasakan sakit dan kecewa. Hujan semakin deras dan dia semakin merasakan sakit. Entahlah pikiran dia seakan kosong. Dia berjalan sempoyongan, tak tau dimana dia harus menceritakan sakitnya.
           Hari berganti hari, tak terasa seminggu berlalu. Dia tak pernah lagi melihat bunga. Matanya seakan sakit jika harus melihat bunga yang akan menjadi istri orang lain. Dia tak tau cintanya kepada bunga apakah masih ada atau sudah hilang bersama hujan. Hatinya seakan ingin bergerak, berjalan mencari bunga. Untuk membuktikan apakah hatinya masih sama. Masih sama mencintai bunga atau sudah tak lagi. Tapi kakinya seakan kaku, seakan baru saja keluar dari pendingin es. Bunga tak tau cinta itu telah membekas dihati dia, bahkan untuk menghapusnya begitu sulit. Dinding-dinding hati dia seakan rusak, karena terlalu berusaha menghapusnya. Cinta itu menyakitkan baginya. Dia tak tau mengapa dia begitu mencintai bunga. Kenapa dia bisa sebodoh itu, seharusnya dia sadar, tapi dia malah terus mengulangi kesalahan itu. 
            Kini dia tak bisa berkutik, berdiam di lingkaran yang mengerikan, lalu di pandang dengan senyum yang menyedihkan. Lalu bunga? Berdiri tegap tak tau apa yang terjadi dengan lelaki yang mengaguminya, hidup bahagia lalu pergi.
           Di sebuah kursi panjang yang tersedia di taman, dia duduk. Di hadapannya banyak anak-anak yang sedang bermain bersama teman-temannya. Dia seakan bermimpi suatu saat dia akan memiliki keluarga bersama bunga, gadis pujaannya dan memiliki keluarga yang bahagia bersama anak-anaknya. Tapi perlahan tapi pasti, mimpi itu seakan hilang bak di telan bumi.  Mimpi itu tak akan bisa menjadi nyata, karena bunga akan menjadi istri dari orang lain. Dia sadar, itu semua terjadi karena kebodohannya sendiri. Dia tak pernah bisa untuk memberitahukan kepada bunga bahwa dia mencintainya. Tapi kini, dia hanya dapat menyesali semua kebodohan yang pernah dia lakukan. Kini dia harus diam, cintanya sudah tak lagi sama terhadap bunga. Dia sadar, dia tak boleh lagi mencintai istri orang lain. Dan sekarang dia akan menunggu bahwa suatu hari cinta akan datang untuknya bahkan akan lebih besar meskipun bukan dengan wanita yang sama.
          Kata orang, cinta pertama biasanya akan gagal. Dulu dia tak pernah percaya dengan kata-kata itu. Hingga suatu ketika kata-kata itu menjadi suatu kenyataan. Kata-kata itu seakan terngiang di otaknya. Dia pernah berharap cintanya tak akan hilang untuk bunga. Tapi harapan itu seketika hancur karena satu kata yaitu "menikah". Dia benci dengan kata itu. Karena kata-kata itulah cintanya kini hancur dan hilang tanpa jejak dan tak kembali meskipun dia telah mencarinya.
           Sudah satu tahun sejak dia melupakan cintanya untuk bunga. Gadis dengan kecantikan yang tak ada duanya, menurutnya. Dia kini duduk di atas pasir dan di hadapannya telah disuguhkan pantai dengan angin yang segar. Dia seketika diam ketika mengingat semua kisah cintanya tanpa wujud yang sudah mati satu tahun lamanya. Dia tak lagi menjadi dirinya satu tahun yang lalu. Dia telah berubah menjadi orang yang dingin, kaku tanpa ekspresi. Hatinya telah berubah menjadi batu yang tak tau siapa yang akan bisa melelehkan hatinya yang beku karena cinta masa lalunya. Dia tak lagi bisa menarik bibirnya untuk memperlihatkan senyumannya kepada orang lain. Senyumannya telah hilang bak di telan bumi. Telinganya tak lagi bisa mendengar apa yang di bicarakan orang lain, meskipun itu hal baik untuknya. Telinganya seakan tuli, sejak dia mendengar bahwa bunga akan menikah.
          Hingga suatu ketika, cinta yang telah lama hilang itu kembali hadir dengan gadis yang berbeda. Cinta itu datang lagi tanpa permisi. Dia tak pernah tau, mengapa waktu membawanya bertemu dengan gadis yang berbeda tetapi cinta sama. Cinta yang sama-sama besar. Yang entahlah apakah cinta itu akan bertahan lama ataukah hanya akan datang lalu pergi tanpa tau apakah hati yang ditinggalkan sakit atau tidak. Entah kenapa gadis itu membuat dia seakan tak mau lepas untuk berhenti memandangnya sama seperti dengan bunga, gadis yang entah sekarang kabarnya tak terdengar lagi. Entah doa siapa, cintanya kini sangatlah berharga bagi dia. Cinta yang diberikan oleh gadis itu. Gadis itu seakan telah membuang bunga dari hati dia. Gadis itu telah berhasil mencairkan hati yang telah beku karna cinta lamanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengelola Informasi dalam Ceramah

 BAB III 1. Mengelola Informasi dalam Ceramah          Pernahkan kamu mendengar ceramah?          Apakah kamu suka ketika mendengar ceramah?...