Kamis, 15 Oktober 2020

Mengenali Kalimat Ambigu

        





Ambigu = Makna Ganda     

    Sebuah kalimat disebut ambigu jika kalimat tersebut berpotensi memiliki lebih dari satu makna. Kalimat yang ambigu adalah kalimat yang tidak efektif. Mengapa demikian? Karena jika sebuah kalimat ambigu, dapat dipastikan kalimat tersebut akan sulit dimengerti oleh pembaca.

        Kalimat ambigu umumnya menjadi masalah dalam ragam tulis. Berbeda dengan ragam komunikasi secara lisan yang di dalamnya terdapat penjedaan dan intonasi. Ragam tulis tidak memiliki hal semacam itu, sehingga jika kita kurang jeli menyusun kata sebuah kaliamat, ada kemungkinan makna yang kita sampaikan akan ditanggapi lain oleh pembaca, sehingga makna yang ingin kita sampaikan tidak sampai kepada pembaca.

        Perhatikan contoh berikut:

        "Guru baru datang." Kalimat tersebut tergolong ke dalam kalimat yang ambigu. Mengapa demikian? Karena kalimat tersebut dapat diartikan:

  1. seorang guru yang baru (Bukan guru lama) mengajar.
  2. ada seorang guru yang baru datang.
            "Istri pak lurah yang baru itu meninggal pagi tadi." Kalimat tersebut juga termasuk kalimat yang ambigu. Kalimat tersebut dapat diartikan:

  1. istri pak lurah baru (bukan lurah lama) yang meninggal.
  2. istri baru (bukan istri lama) pak lurah yang meninggal.
    Kalimat-kalimat di atas berpotensi menjadi ambigu karena adanya ketidakjelasan makna yang disampaikan.

        Untuk menghindari keambiguan kalimat, ada dua cara yang dapat kita lakukan:

  1. Menggunakan tanda hubung. Dalam pedoman umum ejaan Bahasa Indonesia, salah satu fungsi tanda hubung adalah untuk memperjelas hubungan bagian kata. 
               Contoh: Guru baru datang menjadi  Guru-baru datang. 

        2. Mengubah bunyi kalimatnya, misalnya dengan menambahkan kata "itu".

                Contoh: Guru baru datang menjadi Guru itu baru datang.

        Hal lain yang menyebabkan sebuah kalimat ambigu adalah keterangan di awal kalimat disambung langsung dengan subjek. Kata di akhir fungsi keterangan dapat bercampur dengan kata di awal fungsi subjek dan itu bisa menimbulkan makna yang berbeda. Hal seperti ini harus diantisipasi. 

                Contoh:

                Di rumah kakek saya tidur.

        Dari contoh kalimat di atas muncul pertanyaan:

  • Siapa yang tidur?
  • saya atau kakek?
  • di mana dia tidur?
  • di rumah?
  • atau dirumah kakek?
     Keambiguan semacam ini dapat dihindari dengan menggunakan tanda koma untuk memisahkan keterangan di awal kalimat. Cobalah bandingkan perbaikan kalimat yang telah ditambahkan tanda koma di dalam kalimatnya berikut ini:


        Kalimat awal : Di rumah kakek saya tidur.

         Perbaikan       : Di rumah kakek, saya tidur.

        Setelah diperbaiki kalimat tersebut lebih jelas kan?

        Nah, dalam menyusun sebuah kalimat, masalah keambiguan harus kita perhatikan agar apa yang ingin kita sampaikan tidak ditafsirkan berbeda oleh orang yang mendengar atau membacanya.



1 komentar:

Mengelola Informasi dalam Ceramah

 BAB III 1. Mengelola Informasi dalam Ceramah          Pernahkan kamu mendengar ceramah?          Apakah kamu suka ketika mendengar ceramah?...