Kamis, 15 Oktober 2020

Teks Editorial/Tajuk Rencana


        Teks editorial adalah artikel utama yang ditulis oleh redaktur koran yang merupakan pandangan redaksi terhadap suatu peristiwa (berita) aktual (viral), fenomenal dan kontroversial (menimbulkan perbedaan pendapat).

        Tidak semua peristiwa/isu bisa diangkat ke dalam editorial. Peristiwa/isu yang diangkat dalam teks editorial harus memenuhi beberapa syarat yaitu:
  • Aktual, yaitu sedang menjadi sorotan/trending topik.
  • Fenomenal, yaitu sesuatu hal yang sangat luar biasa.
  • kontroversial, yaitu menimbulkan perbedaan pendapat.

        Teks editorial terdiri atas fakta dan opini/pendapat. Opini-opini dalam teks editorial bisa berupa kritik, penilaian, prediksi, harapan, dan juga saran. Sedangkan faktanya adalah peristiwa yang benar-benar terjadi, dan sedang menjadi trending topik.

        Editorial merupakan salah satu rublik yang ada di media massa cetak seperti koran, majalah, atau buletin. Editorial biasanya menjadi sebuah cara untuk merespon isu atau permasalahan dan memberikan tawaran solusi di akhir teks. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang lugas.

        Kamu pasti pernah membaca koran, bukan? Setiap hari redaktur selalu membuat artikel yang menyoroti berita aktual yang sedang terjadi. Pembahasan di dalam artikel biasanya disertai kritik dan saran terhadap peristiwa aktual yang terjadi. 

        Dengan membaca editorial kita tidak sekadar tahu peristiwa yang sedang terjadi seperti saat kita membaca berita. Namun, dengan membaca editorial kita pun akan lebih memahami dan bersikap kritis. 

        Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena di dalam editorial kita bisa menemukan pendapat-pendapat dari penulis/redaksi tentang isu yang dibahas. Dengan sering membaca ataupun menyimak editorial kita diharapkan bisa lebih bijak menyikapi setiap permasalahan, sehingga kita bisa menjadi lebih dewasa untuk membedakan mana yang baik dan mana yang kurang tepat.

  

Materi

     

Struktur Teks Editorial

1. Pernyataan pendapat / Pengenalan Isu

        Bagian ini berisi sudut pandang penulis mengenai masalah yang dibahas. Biasanya sebuah teori yang akan diperkuat oleh argumen. Fungsionalnya adalah mengenalkan isu atau permasalahan yang akan dibahas dalam bagian berikutnya. Pada bagian pengenalan isu disajikan peristiwa persoalan aktual, fenomenal, dan kontroversial.

2. Argumentasi / Penyampaian Pendapat

        Alasan atau bukti yang digunakan guna memperkuat pernyataan dalam tesis, walau secara umum argumentasi diartikan untuk menolak suatu pendapat. Argumen bisa berbentuk pertanyaan umum/data hasil penelitian, pernyataan para ahli, maupun fakta-fakta berdasarkan referensi yang bisa dipercaya.

3. Penyataan/Penegasan Ulang Pendapat (Reiteration)

        Penegasan di dalam editorial berupa simpulan, saran atau rekomendasi. Di dalamnya juga terselip harapan redaksi kepada para pihak terkait dalam menghadapi atau mengatasi persoalan dalam isu tersebut. Bagian berisi penegasan ulang pendapat yang didorong oleh fakta di bagian argumentasi guna memperkuat/menegaskan. Ada di bagian akhir teks.

      Kaidah Kebahasaan Teks Editorial

        Kaidah kebahasaan teks editorial tergolong ke dalam kaidah kebahasaan yang berciri bahasa jurnalistik. Berikut ini ciri-ciri dari bahasa jurnalistik teks editorial.

1. Penggunaan kalimat retoris.

        Kalimat retoris adalah kalimat pertanyaan yang tidak ditujukan untuk mendapat jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dimaksudkan agar pembaca merenungkan masalah yang dipertanyakan tersebut sehingga tergugah untuk melakukan sesuatu, atau minimal mengubah pandangannya terkait isu yang dibahas.

        Berikut contohnya:

  • Benarkah pemerintah tidak tahu atau tidak tahu atau tidak diberi tahu mengenai rencana Pertamina menaikkan harga elpiji?
2. Menggunakan kata-kata populer

        Kata-kata populer adalah kata-kata yang mudah dicerna oleh khalayak. Tujuannya agar pembaca tetap merasa rileks meskipun membaca masalah yang serius dipenuhi dengan tanggapan yang kritis. Contohnya seperti, terkaget-kaget, pencitraan, menengarai, dan lain sebagainya.

3. Menggunakan kata ganti penunjuk yang merujuk pada waktu, tempat, peristiwa, atau hal lainnya yang menjadi fokus ulasan.

    Contoh:

  • Sungguh kenaikan harga itu merupakan kado yang tidak simpatik, tidak bijak, dan tidak logis.
4. Banyaknya penggunaan konjungsi kausalitas, seperti sebab, karena, oleh sebab itu, akibatnya, dan sebagainya.

    Contoh: Masyarakat sebagai konsumen menjadi terkaget-kaget karena kenaikan tanpa didahului sosialisasi.






Untuk melatih kemampuan kalian silahkan Kerjakan tugas berikut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengelola Informasi dalam Ceramah

 BAB III 1. Mengelola Informasi dalam Ceramah          Pernahkan kamu mendengar ceramah?          Apakah kamu suka ketika mendengar ceramah?...