Senin, 19 November 2018

Menanti Hujan bersama Angin By Komang Kharisma Utari


Menanti Hujan bersama Angin
By Komang Kharisma Utari



    Dalam diam aku termenung, menatap langit begitu cerah. Aku bersama angin yang selalu menemani ku. Aku merindukan hujan, sebagai pelengkap hidupku.
Di suatu ketika, aku merasa sangat bosan berada di rumah, aku bingung akan berbuat apa, aku pun tertidur dan bangun kembali lalu makan. Itu saja yang selalu aku lakukan setiap harinya. Aku tak tau, hidupku terasa hampa tanpa adanya cinta.
   Suatu pagi, aku ingin menghirup udara luar, ku hubungi semua teman-temanku namun semua sibuk dengan urusan masing-masing. "uhhh sepi sekali hidup ini" ungkapku. Aku bergagas pergi sendiri, aku berjalan di taman melihat orang-orang yang senantiasa bahagia bersama keluaraga, pasangan, dan teman-temannya. Bagaimana dengan aku?  Yaa, aku sendiri bersama angin yang selalu menemani.
    Aku bahagia walaupun aku sendiri, dengan melihat kebahagiaan orang lain, aku juga bisa merasakan kebahagiannya. Tanpa sengaja ada seorang lelaki yang menghampiri ku, ia Langsung duduk disampingku dan memberikan ku sebuah hand phone, aku terkejut, aku fikir ia orang jahat, ternyata dia lelaki tampan yang tersenyum manis melihatku. "mungkin ini milik mu, aku menemukannya di parkiran " ungkapnya. Aku terdiam, aku baru tersadar ternyata sedari tadi aku tidak memegang hand phone, aku berkata " iya ini hand phone milikku, terimakasih banyak", "lain kali lebih hati-hati lagi, untung saja aku yang menemukannya, jika orang lain mungkin hand phone mu tidak kembali" ungkapnya lagi. " mungkin tadi jatuh saat aku menyimpan kunci mobilku" ungkapku. "kenalkan namaku Dimas" Ungkapnya. " Aku Karin" ungkapku. 
     Saat itu, aku bersamanya seharian. Kami mulai bercerita tentang diri masing-masing hingga akhirnya kami bercanda bersama, tertawa, berlari, berfoto dan makan bersamanya. Aku merasa Dimas adalah orang baik, Dimas bisa membuat aku yang tadinya kurang bersemangat menjadi sangat bahagia bersamanya. Hingga akhirnya kita terpisah di taman itu.
     Saat malam, aku selalu memikirkan nya, aku selalu terbayang bisa betemu dia lagi. Betapa bahagianya aku pagi tadi, cinta yang aku harapkan seperti datang lagi dalam hidupku. " tiii tutttt" pesan whatsapp masuk, aku melihatnya "selamat malam Karin manis, selamat bertemu dalam mimpi. Dimas" aku kaget melihat nya, aku tidak tau mengapa dia bisa mengirim pesan whatsapp kepadaku, aku bahagia sekali, aku tersenyum sendiri dikamar. "selamat malam juga Dimas".
     Keesokan harinya aku bergegas ke kampus,setibanya di kampus, tiba-tiba Dimas menghampiriku, aku tidak tahu bahwa dia sekolah di universitas yang sama dengan aku. "Hai Karin, apa kabar pagi ini? " ungkap Dimas. " Loh, Dimas?  Kamu sekolah di kampus ini juga? Mengapa aku baru melihat mu? " ungkapku. "Iya, aku sekolah dikampus ini juga, aku sudah tau kamu dari dulu, tapi kamu mungkin tidak memperhatikanku" ungkap Dimas. Kami berdua selalu bersama di kampus, berjalan bersama, bermain, makan, kerja tugas bahkan pulang pun aku bersamanya. kebetulan kata dia rumahku tidak jauh dari rumahnya, selama berada di motor aku bahagia sekali. Cinta yang aku harapkan kembali datang semoga saja dialah orang yang aku tunggu selama ini.
   Setiap pergi kekampus, aku selalu bersama Dimas,dia selalu menjemputku setiap kami akan berangkat ke kampus. Aku membantu dia mengejarkan skripsinya begitu pula dengan dimas, dia selalu membatu menyelesaikan tugasku, iyalahh dia kan senior keren. Hehe..  Baik sekali senior manis ini. Setiba dirumah, aku langsung masuk ke kamar sambil senyum-senyum sendiri. Dua hari telah berlalu aku lewati bersama Dimas. Aku sangat bahagia.
     Semakin hari, aku semakin merasakan bahwa aku jatuh cinta dengan Dimas. Aku juga melihat bahwa dia memiliki perasaan yang sama denganku. Hingga akhirnya Dimas mengajakku untuk makan malam bersama di sebuah Restoran mewah, aku bingung harus menggunakan baju apa malam ini, aku ingin terlihat cantik malam nanti. Hingga akhirnya Dimas datang menjemput ku. tinnn tinnn suara kelakson mobil Dimas sudah terdengar, Ibu membukakan pintu untuk Dimas, Ibu ku tidak tahu siapa Dimas, sebab aku belum pernah menceritakannya. Aku pun keluar menemui Dimas dan mengenalkannya dengan Ibu ku.
    Saat tiba di restoran, ternyata dimas telah membooking tempat ini khusus untuk makan malam kami. Romantis sekali, dengan hamparan lilin dan bungan disertai suara biola yang menyejukan hati. Aku tidak percaya, Dimas melakukan semua ini untuk ku. Kami dilayani layaknya seorang Raja dan Ratu. Karin, kamu cantik sekali malam ini ungkap Dimas. Aku hanya tersenyum mendengar nya memujiku, sambil menatap wajahnya aku merasakan getaran cinta dimatanya. Karin aku mencintaimu sejak dulu namun maafkan aku, aku baru berani mengatakannya sekarang. Maukah kamu menjadi kekasih ku? ungkap Dimas. Aku sangat gugup, aku tak tahu apa yang aku rasakan ini, senang, terharu, bercampur menjadi satu. Iya aku mau menjadi kekasihmu Dimas aku menjawab dengan sangat bahagia. Kami pun mengahabisakan waktu berdua bersama makanan. Bahagia dan kenyang yang aku rasakan.

    Keesokan harinya, aku ke kampus bersama Dimas. Kami kembali menghabiskan waktu berdua.
Dimas mengajak ku mall untuk membelikan baju Ibu nya, Ibu nya besok akan ulang tahun, kata Dimas Wanita dengan wanita pasti seleranya sama. Aku mengiyakan saja semua keinginannya. Kami pun memilihkan baju untuk Ibu nya.  Hingga akhirnya kami mendapatkan dua baju yang pas untuk ibunya. Tak lupa juga Dimas memilihkanku sebuah gaun yang sanagt indah Pakai ini saat pesta ulang tahun ibuku ungkapnya. Baiklah, aku akan memakainya sayang.
     Dimas adalah sosok seorang anak yang sayang dan sangat patut kepada Ibunya. Dimas ternyata tinggal di Jakarta dan Ayahnya tinggal di Newyork. Dimas lebih memilih ikut bersama Ibunya ketimbang bersama ayahnya, karena rumahnya yang di jakarta tidak ad yang mengurus, ibunya memutuskan tinggal di jakarta bersama Dimas. Aku dan ibu Dimas semakin dekat, Dimas sering mengajak ku kerumahnya. Dimas dan aku saling mencintai dan berjanji akan selalu bersama.
    Setiap orang pasti mempunyai masa lalu, begitupun dengan Dimas, dia dahulu mempunyai kekasih di Newyork namun mereka berpisah karena Dimas memutuskan untuk ke Jakarta.Wanita itu tidak sanggup menjalani hubungan jarak jauh dengan Dimas dan memutuskan untuk mencari lelaki lain. Wanita itu bernama Angel, sesuai dengan namanya ia memang wanita cantik yang pernah menjadi satu-satunya wanita yang selalu ada untuk Dimas, namun sekarang aku yang menjadi wanita yang akan selalu mendampingi Dimas. Aku berharap Angel tidak ada lagi dalam hati Dimas dan Dimas tidak menghianatiku. 
     Dimas memutuskan untuk melanjutkan study S2 di Newyork karena perintah Ayahnya. Dimas mengatakan padaku dengan begitu sedih dan aku serasa tidak sanggup untuk mendengarnya. Karin sayang, kekasihku maafkan aku , aku harus melanjutkan study s2 ku di Newyork. Ini bukan waktu yang lama, hanya dua tahun dan aku akan kembali ke jakarta untuk melamarmukata dimas. Newyork? Apa kamu tidak bisa melanjutkan study mu disini saja? ungkapku. Ini keinginan ayah dan ibuku , aku tidak bisa membantahnya.  Tenang lah sayang, Aku akan kembali lagi bersamamu.  Jaga dirimu baik-baik selama kamu jauh dariku, ini semua aku lakukan demi masa depan aku dan kamuungkap Dimas.
    Berangkatlah Dimas ke Newyork, kami berpisah di Bandara. Benar-benar perpisahan yang sangat menyedihkan, aku tidak sanggup lagi menahan air mataku, rasanya aku ingin ikut bersamanya dan menemaninya namun, apa boleh buat aku juga akan sibuk dengan kuliahku. Aku kemabali lagi menunggu bersama angin, andai angin adalah manusia sudah ku nikahi saja angin ini. Angin yang selalu setia menemani ku, cinta yang dulu kumiliki, sekarang telah pergi entah akan kembali atau pergi untuk selamanya. Namun aku tetap akan menunggu hujan datang bersama angin.
    Dua tahun telah berlalu, namun aku masih menunggu tanpa ada rasa ingin pergi. Selama dua tahun aku menahan rindu, jarak yang menjadi penghalang membuatku tidak bisa berbuat apa. Sudah satu minggu, Dimas tidak ada kabar aku tidak bisa menghubunginya. Entah apa yang terjadi dengannya saat ini, namun aku harap Dimas disana baik-baik saja tanpaku.
     Tanpa sengaja, aku melihat instastory Dimas, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, wanita itu menyandarkan Kepalanya di bahu dimas dengan captions Love you so much beib. Sontak aku merasa jatuh, jatuh yang sangat dalam. Ini bukan jatuh hati yang terasa sangat bahagia tetapi jatuh dalam perasaan yang sakit, aku tidak menyangka Dimas menghianatiku. Aku merasa sangat hancur, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku sakit, aku kecewa, aku benci laki-laki itu. Dimas, orang yang selama ini aku harapkan akan menjaga seperti ayahku menjagaku, kini menghianatiku. Hatiku sekeita remuk dan ini sakit yang paling sakit.
     Aku memutuskan untuk pergi ke Bandung kerumah Tante sarah untuk menenangkan diri. Aku pergi tanpa sepengetahuan Dimas. Aku ingin melupakan semua kenangan bersamanya walau aku tau itu tidaklah mudah. Tidak mungkin aku masih berada dihati lelaki yang telah menghinatiku. Menghapusnya dari hati dan pikiran kini menjadi tujuanku agar aku tidak selalu berada dalam perasaan yang akan membuatku hancur.
    Satu minggu sudah aku berada di Bandung, Aku telah menceritakan semuanya kepada tante sarah. Tante sarah menguatkan ku dan menyarankan ku itu mencaritahu yang sebenarnya,tapi aku sudah merasa terkhianati hingga aku memutuskan untuk tidak bertemunya lagi. Dibawah pohon aku bersama angin, menunggu hujan yang menghancurkan. Aku tidak boleh terlalut dalam kesedihan yang sangat lama. Aku harus kuat dan bisa menghadapi semuanya.
    Tiba-tiba Dimas datang kerumah tante sarah, Dimas mengetuk pintu kamarku aku terkejut saat melihat Dimas di pintu kamarku. Dimas tersenyum , senyuman manis itu yang  pertama kali aku lihat saat di taman, kini aku lihat kembali. Air mataku jatuh tanpa bisa aku kendalikan, rasa rindu yang aku tahan selama dua tahun kini hanyut oleh air mata. Dimas andai kau bisa kumiliki seperti dulu lagi. Dimas telah menceritakan semua yang terjadi kepada tante sarah dan ibuku, dan Dimas menceritakan semuanya padaku, ternyata wanita di instastory itu adalah teman kecilnya di Newyork. Aku telah salah paham padanya, aku merasa terkhianati ternyata aku yang bodoh karena telah dibodohi oleh instastory.
    Karin sayang, kekasihku aku kembali kepadamu memenuhi janjiku dulu, sudahlah sayang janganl bersedih, aku ada disini bersamamu dan akan menjagamu. Ungkao Dimas. Kamu jahat, kenapa kamu selama seminggu tidak mengabariku? Kemana saja kamu bersama teman kecilmu itu saat tidak bersmaaku?  Apa saja yang kamu lakukan bersamanya?  Kamu sudah membuat aku hancur tanpa sebab yang jelas Dimas. Ungkapku.  Maafkan aku karin sayang, kamu terlihat sangat cantik jika sedang marah-marah begini ungkapnya kembali. kamu bisa saja merayuku saat aku marah padamuungkapku.
     Dua bulan telah kita lewati bersama, aku kembali merasakn cinta yang dulu bersama Dimas. Aku sangat mencintainya, aku menyayanginya. Suka duka kita lewati bersama, Dimas membawaku bertemu ibunya kembali. Aku senang sekali, aku juga sangat merindukan Ibunya selain anaknya.
     Dimas meminta izin kepadaku untuk kembali ke Newyork, dengan alasan untuk merayakan ulangtahun ayahnya namun Dimas tidak mengajak ku, mungkin saja Dimas di Newyork tidak lama. Dimas pergi ke Newyork, Dimas mengatakan hanya pergi selama satu minggu, dan aku tidak merasa keberatan dengan hal itu.  Karin sayang, kekasihku aku pergi yaa,  aku tidak pergi untuk meninggalkan mu selamanya, namun jika aku meninggalkan mu untuk selamanya, jaga dirimu baik2 yaungkap Dimas.
    Satu bulan Dimas tidak ada kabar, aku tidak tahu mengapa Dimas belum kembali ke Jakarta. Aku berusaha menghubunginya, namun selalu sangat sulit aku coba hubungi ibunya tetap saja tidak bisa. Aku pergi menemui ibunya langsung ke rumahnya, tetapi tidak ada ibunya Dimas dirumahnya, hanya ada pembantu rumah tangganya. Aku bertanya pada pada pembantu itu ia mengatakan bahwa Dimas dan Ibunya telah pergi ke Newyork karena Dimas sakit. Sontak aku sangat terkejut mendengar berita itu, aku tidak pernah tahu kalau Dimas sedang sakit, Dimas mengidap penyakit Kelenjar getah bening stadium akhir. Dimas tidak pernah memberitahuku tentang penyakitnya ini, aku sangat sedih.
     Aku memutuskan untuk menyusul Dimas ke Newyork, pembatu rumah tangga itu memberiku alamat Dimas di Newyork. Dengan perasaan yang sangat kacau dan khawatir aku terbang ke Newyork. Aku sempat kebingungan mencari alamat Dimas, saat aku menemukan rumah Dimas ternyata Dimas berada di rumah sakit.  Aku pergi kerumah sakit tanpa sepengetahuan Dimas ataupun ibunya. Setelah tiba di rumah sakit, aku di sambut dengan tangisan oleh ibunya Dimas.  Karin mengapa kamu bisa ada disini? Siapa yang memberitahu mu bahwa Kami ada disini? ungakap ibunya Dimas.Dimana Dimas bu? Dimana Dimas sekarang bu?  Bagaimana keadaannya ungkapku.  Aku bertanya dengan deraian air mata di pipiku. 
     Aku melihat Dimas dari balik kaca dengan alat bantu hidupnya. Sungguh sangat hancur yang kurasakan melihat orang yang sangat aku sayangi kini terbaring lemah tanpa senyuman. Ibu apa yang terjadi pada Dimas? Mengapa ibu tidak memberitahu ku bu? ungkapku.  Sabar sayang, ini lah ujian terberatmuungkao ibu Dimas.
     Aku melangkah menuju ruangan, dengan tangisan yang tiada henti aku menggenggam Tangan Dimas. Dimas apa yang terjadi padamu sayang?  Mengapa kamu tidak pernah memberitahu ku tentang semua ini Dimas?  Aku sangat mengkhawatirkan muungkaku. Dimas hanya tersenyum sambil menggenggam erat tanganku dan berkata Karin sayang, kekasihku jangan bersedih sayang,  aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja sayang. Tenanglah aku disini bersamamu. Terimakasih sudah datang menjenguk ku. bagaimana mungkin kamu bilang bahwa kamu baik-baik saja dengan kondisi mu saat ini?  Dimas sayang aku tidak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinyaungkapku. 
    Aku memeluk erat tubuh Dimas, menggenggam erat tangannya dan merasakan besar cintanya kepadaku. Satu bulan aku merawat Dimas, setiap hari aku menjaganya, memberikan makan, mandi, tidur, aku menemaninya. Aku sangat takut kehilangannya. Hingga saat yang tidak pernah aku harapkan tiba. Detak jantung Dimas tidak terkontrol, akhinya Dimas pergi untuk selamanya. Aku menangis,bukan hanya sedih yang aku rasakan tetapi hancur berkeping -keping. Aku kehilangan cinta, akh kehilangan hujan. Bukan hanya aku yang kehilangan tetapi semua keluarganya.
    Dimas mengajarkan ku banyak hal, mulai dari kesabaran, kesetiaan , dan arti sebuah penantian. Dimas adalah hujan terindah yang telah diberikan Tuhan untukku. Terimakasih Tuhan, kau telah kirimkan aku Hujan yang indah untukku. Kini aku kembali bersama angin, angin itu kini adalah Dimas. Angin yang menemaniku setiap hari. Aku bersama angin, aku bersama Dimas. Dimas mengajarkan aku bahwa apapun yang kita miliki tidak selamanya bisa kita miliki, sewaktu-waktu semua yang kita miliki akan di ambil oleh Tuhan.
Selamat jalan kekasih terindahku

Hujan Bulan Juni by Gusti Komang Arini


“HUJAN BULAN JUNI”
(karya:Gusti Komang Arini)


Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
                  Yang fana adalah waktu
Kita abadi
Memungut detik demi detik,
Merangkainya seperti bunga
Sampai suatu hari kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”. Tanyamu
Kita abadi
Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Padadebu, cinta yang tinggal
Berupa bunga kertas dan lintas angka-angka
Angin untuk menerbangkan rambutmu
Aku, untuk mencintaimu
                             

                Rintik itu membangunkanku. Mengingatkan pada sebuah tugas yang belum usai. Kugendong tas merahku menuju tempat yang akan menghabiskan setengah hariku. Diperjalanan aku memandangi sebuah rumah, rumah yang pintu depannya belum terbuka. Kecepatan motor kurendahkan. Setidaknya aku bisa memandangi rumah itu walau hanya seperlima menit saja.
                Setiba di sekolah ada suara keras yang memanggilku.
"Iki ..!!!!" seru suara itu memanggil seperti aku ini seorang tunanetra.
"Biasa aja bisakan. saya kan tidak tuli”.
Mereka hanya cengegesan tak bersalah. Tia dan anggi. Dua sahabat yang sudah seperti saudara sendiri untukku. Pertemanan kami sudah sangat lama. Kami menuju kelas yang luar biasa jauhnya dari gerbang. Kami harus melewati lapangan upacara, lapangan voli dan lapangan futsal untuk mencapai kelas yang pengap itu. Untungnya kami sudah kelas 3, Jadi kami tak segan melewati lorong kelas lain. Seperti biasa, 6 jam di tempat ini sudah sekurang kurangnya 810 hari kami melewatinya. siang ini sangat panas. Rasanya sejumlah asap sudah keluar dari masing masing siswa. Jika sebuah telur mendarat di kepala kami. Aku yakin sudah menjadi telur ceplok yang sangat lezat.
“ Aagghh laparnya”. Seruku dalam hati.
Aku, tia dan anggi pulang tak searah. Rumah kami akan dipisahkan dengan sebuah perempatan depan sekolah. Ku hadapi siang ini dengan doa agar jarak rumahku dengan sekolah setidaknya bisa diperdekat. Tak lama aku sudah tiba di rumah. Kurebahkan tubuh yang tak seberapa tinggi ini.
"Iki.. sini sebentar" ibuku memanggil
"Iya ma".. sahutku singkat "kenapa?"
"Antar mama ke rumah kak adi ya"
"Ngapain ma?"
"Kak adi kan baru pulang!" seru ibuku santai
"Apa??".. aku kaget.
Oh iya. Soal kak adi ini. Dia adalah sosok pria yang sangat aku kagumi sejak aku SMP. Dia tinggal satu komplek denganku. Hanya saja dia sekarang sedang kuliah di luar kota. Sangat jarang untuk bisa melihatnya di rumah. Dan soal rumah tadi pagi itu. Ya, itu rumahnya kak adi.
Sorenya aku dan ibu berkunjung kerumah kak adi. Namun sayangnya kak adi tidak ada.
 “Keluar katanya" kata ibunya.
 Aku kecewa. Rinduku ingin melihat wajahnya, namun tak kunjung aku jumpa juga.Sekitar dua jam ibuku dan ibu kak adi berbincang. Aku hanya duduk menatap rangkain kata yang mereka ucapkan. Entah apa maknanya. hatiku hanya menggerutu kesal karena kak adi tidak ada.
"Iki, ayo pulang". ibuku membangunkanku dari lamunan. Aku hanya menangguk tak bermakna.
Saat keluar rumah, ada sosok yang jauh lebih tinggi di hadapanku.
"Iki, kamu sudah besar ya..” itu kak adi. Tangan hangatnya mengacak- acak rambutku. Oh tuhan jantungku rasanya ingin meledak. Entah sudah semerah apa wajah ini. Aku hanya menunduk tak berani menatapnya.
"I..iya kak. Kakak a..a.apa kabar?" tanyaku dengan gugup.
"Baik, kamu sudah mau pulang kenapa cepat?" tanya kak adi hangat
"I..i..iya".. astaga kenapa mulutku jadi kelu begini. Tolonglah kenapa kepalaku tak mau terangkat. Aku ingin melihat wajah tampan kak adi.
Singkatnya, aku sudah di rumah. dan selama di rumah aku hanya mengutuk diriku yang kelu di hadapan kak adi. hari demi hari aku lalui dengan hanya berani memandangi wajah kak adi di depan rumahnya. Bahkan aku hanya mencari alasan ke toko yang di dekat rumah kak adi. Hanya untuk melihatnya. Walau tak puas. Pernah waktu itu, sudah beberapa hari aku tidak melihat kak adi di rumahnya. Aku fikir kak adi sudah kembali kembali kuliah, tapi sering kali motor birunya itu terparkir dengan rapi di halaman rumahnya. Dari pada aku penasaran, pelanga pelono seperti orang gila setiap lewat di depan rumah kak adi, aku menghampiri ibuku .
"Ma, kak adi sudah balik ke kampusnya" tanyaku memberanikan diri.
"Belum, kemarin mama lihat dia kok" sahut ibuku sembari mengayun ayunkan sapunya.
"Tapi ma," bantahku
"Kenapa kamu tanya kak adi. Ada perlu sama dia?"
"Tidak ma, tidak, cuma tanya saja..” tunduku malu ditatap ibuku.
Esoknya, disekolah seperti biasa aku, tia dan anggi sedang duduk di bawah pohon akasia yang beruntungnya tumbuh subur di depan kelas kami.
"Eumm.. tia, anggi" tegurku memecah tawa mereka
"Kenapa ki?" Sahut tia
"Aku, aku.. aduh gimana cara ngomongnya ya"
"Kenapa sih?". Sahut mereka kompak
"Kalian tau kan, rumah warna biru sebelum rumahku"
"Iya, kenapa sama rumah itu?" tanya anggi penasaran
"Aku suka sama cowok, dia tinggal di rumah itu" kataku dengan sejuta malu
"Apa, seriusan,? Tanya anggi
"Ganteng kan ki, katismatik atau gimana?" sambung tia penasaran
"ih kalian apa sih, aku juga bingung tau. Terus aku harus gimana"
"Orangnya gimana sih ki, bikin penasaran aja"
"Tia, nanti kita harus intai yang mana cowoknya" tegas anggi
"Sedelapan.. pokoknya kita wajib tau" semangat tia menimpali
"setuju tia.. bukan sedelapan" jawabku dan anggi kompak
Sorenya tiba tiba bel rumahku berbunyi. Ternyata itu adalah anggi dan tia.
"Tumben ke sini, ada apa" tanyaku tanpa mempersilahkan mereka masuk
"Tadi kita lewat di rumah biru itu, tapi tidak ketemu ada cowok" gerutu tia
"Iya, aku juga akhir akhir ini tidak lihat dia" sahutku
"Padahal sudah penasaran bagaimana modelnya, jauh jauh kesini tapi tidak ketemu" timpal anggi agak kesal
"menurut kalian.. perasaanku ini salah atau tidak" tanyaku gugup
"Kenapa harus salah ki. Masa orang jatuh cinta salah sih" sahut tia cepat
"Masalahnya aku juga bingung. Dia baik banget sama aku. Perlakuannya hangat. Jangan jangan aku cuma salah paham sama perlakuan dia" kataku
"Coba aja dulu. Kalau tidak, Kamu bilang langsung sama dia" saran anggi
"Gila ya kamu, masa riski duluan yang bilang" sahut tia tak terima
"kenapa jadi kalian yang repot sih" sahutku sinis
"Yaudah kita pulang ya, kamu fikirkan aja dulu. Yang terbaik buat kamu gimana" kata anggi menenangkanku
"Iya. Hati hati" jawabku santai
Mereka sudah pulang. Tidak lagi aku dengar Bunyi moyor mereka yang agak berisik itu. Kurebahkan tubuhku di tempat tidut empuk kesayanganku. sebenarnya aku masih bingung dengan keputusan apa yang harus aku ambil. Sampai tak sadar aku terlelap dengan sendiri.
Hari ini hari minggu. Entah di tempatmu hari apa. Bel rumahku berbunyi lagi. Untuk apa anggi dan tia datang lagi pagi pagi begini, fikirku. Dengan wajah yang masih kusam dan rambut yang belum tersisir aku membuka pintu depan dengan malas.

"Astaga..”  teriakku kaget
"Selamat pagi riski" sapanya dengan hangat lengkap dengan senyum manisnya.
Itu kak adi. Dan aku berpenampilan kucel di hadapannya. entah aku harus menitipkan dimana wajahku setelah ini
"mama ada ki?".. tanyanya
"A..a..ada kak. masuk dulu. Mama ada di dalam".. seperti biasa aku tak akan sanggup menatap kak adi. Jadi aku hanya menjawab dengan wajah tertunduk.
setelah mempersilahlan kak adi duduk. Dengan kecepatan kilat ditambah petir aku berlari ke kamar mandi dan bersiap siap. setengah jam kira kira. Aku masih mendengar suara kak adi samar samar di ruang tamu sedang  berbincang dengan ibuku.
"Suaranya sangat indah" seruku diam diam dari balik tirai Memperhatikan wajahnya yang sangat sejuk. Seperti mendapat bibit kacang ajaib. Aku sampai lupa membuatkan munum untuk kak adi. Tak lama kemudian kak adi pamit pulang. Dan aku, Ya aku masih dalam posisi di balik tirai.
"Bahas apa ma, kak adi bilang apa saja, kenapa lama ma?" Tanyaku penasaran pada ibuku
"Bicara soal pawai. Minggu depan kan ada pawai" jawab ibuku menuju dapur
Ingatanku terputar. Kenapa aku bisa lupa dengan pawai rutin yang hanya di lakukan setahun sekali di lingkungan ini. Malamnya aku hanya memikirkan pawai itu. Sudah aku rancang dengan matang sematang buah sawo yang matang bagaimana nanti saat pawai berlangsung. Jantungku berdebar sangat cepat. Mungkin bisa digunakan untuk mengisi bak mandi ukuran 1 x 1 jika jantungku di gunakan untuk memompa air.
Seminggu telah berlalu. Tiba saatnya hari pawai itu tiba. rombongan komplek kami berkumpul di lapangan. Sudah bisa di tebak apa yang aku lalukan. Tentu saja mencari sosok kak adi. Pawai berlangsung dengan sangat meriah. Selama pawai, tatapanku hanya tertuju dengan senyum manis kak adi. Kadang dia luput dari pandanganku, dan entah karena apa aku selalu mencarinya seperti orang gila. Selama pawai aku selalu bersama anggi. Tia, entah sakit perut katanya. Tak terasa waktu berlalu begitu singkat, sudah hampir jam 9 malam, aku pulang bersama keluargaku.
Di dalam kamarku yang hanya berukuran 2x3 aku berfikir, aku memantapkan diri apakah aku akan melanjutkan perasaan ini atau aku hanya akan memendamnya saja. Hingga akhirnya aku punya fikiran untuk melanjutkannnya. Kutelusuri semua social media kak adi. Dari akun facebooknya, hingga nomor telfonnya sudah ku dapat semua. Kini aku hanya tinggal menghubunginya, tapi rasanya hatiku belum mantap untuk mengakui perasaan ini. Satu minggu kurang lebih setiap harinya aku hanya memandangi akun facebooknya itu tanpa berani memulai sebuah obrolan. Hingga lampu lampu jalan itu di padamkan, kabarnya masih belum kudapatkan.
Hari demi hari berlalu begitu saja, mungkin aku sudah lupa atau memang aku yang ingin lupa akan perasaan ini. Hari itu, aku lupa tepatnya hari apa setelah aku pulang sekolah kulihat selembar kertas undangan terletak diatas meja di ruang tamu. Dengan gaya santai aku membaca undangan itu. Baru kali ini juga aku penasaran dengan sebuah undangan. Biasanya aku hanya acuh tak acuh dengan surat undangan, tapikali ini aku sangat penasaran. Kubaca dengan seksama hingga akhirnya mataku tertuju pada nama Adi Putera. Mataku memanas, hatiku rasanya aneh, seperti mendapat tikaman tak kasat mata yang merangkul lalu menusuk. lantai tempatku berpijak sekarang rasanya sedang terguncang. Aku jatuh tertunduk seketika, aku belum mencerna apa yang aku baca saat ini.
Ini sungguhan, mataku tak berbohong. Pernikahan itu memang benar adanya. Rumah kak adi sudah mulai ramai, ibuku juga ikut membantu mempersiapkan pesta pernikahan disana. Tak enak makan, tak enak beraktifitas, itulah yang aku rasakan saat ini. Setiap membayangkannya, otakku selalu penuh dengan penyesalan. Kenapa harus kak adi, kenapa harus laki laki itu, kenapa harus cinta pertamaku?.
10 juni, tak akan aku lupakan mungkin setiap detiknya hari ini. Ya, saat kak adi akan menjadi milik orang lain. Aku datang, bersama ibu dan ayahku tentunya. Dengan telinga menuli,mata memanas dan hati lebam-lebam, dengan berat hati aku berada di sana. Selama di pesta pernikahan itu, aku tak berani menatap wajah kak adi. Walau sesekali kucuri pandang padanya. Sungguh indah, wajah tampan kak adi dilengkapi dengan pakaian adat khas jawa itu membuatnya seribu kali lebih tampan. Dan hariku selanjutnya, yah begitulah, Hanya berlalu seperti ini saja. Hari hariku dengan perasaan ini sudah usang. Hancur bahkan. Sejak saat itu aku belum pernah berani lagi untuk mencintai seseorang, belum pernah ada yang membuka hatiku lagi. Namun aku sadar, sesuatu yang berlebihan kebanyakan akan membawa dampak buruk. Aku masih remaja, SMA saja belum lulus, lalu mengapa aku harus membawa hidupku pada hal yang tak terlalu penting. Dan aku tersadar aku masih mempunyai cinta yang lebih besar dari keluargaku, dari sahabatku.
Begitulah kisah cinta pertamaku. Sebuah kisah yang akan menjadi suatu pelajaran yang bermakna. Tak indah memang, tidak penuh dengan drama seperti kisah cinta orang lain. Namun aku menganggapnya sebagai suatu petualangan yang sangat menyenangkan. Menganggapnya sebagai suatu tantangan yang menjadi peluang emas untuk berkembang.
“sesuatu yang nyata tidak harus selalu memerlukan bukti. Cukup mempercayai hal tersebut kadang itu akan cukup”














Cerpen DON'T SKIP ANY STEP by Anggun Afril Q.


DON'T SKIP ANY STEP
by Anggun Afril Q.

    
            Sambil menatap langit langit bertabur awan, ia berbaring beralaskan rumput hijau yang ramah dan pikirannya terus berjalan menjelajahi memori masalalu, ia gunakan memori tersebut untuk mendapatkan referensi atas persoalan  yang selama ini belum bisa ia pecahkan. Teringat dulu, saat ia masih duduk di bangku SD yang mempunyai cita cita menjadi seorang super hero yang punya niat mulia membantu orang orang dengan gagahnya. Kemudian setelah ia naik ke tingkatan SMP cita citanya masih ingin menjadi superhero, barulah ditingkat SMA ini cita citanya berubah yaitu ingin menjadi pelatih superhero, bercanda, ia akan mengikuti mandat sang supermama untuk melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran. Dia tidak akan menolak, bukan hanya baktinya terhadap orang tua akan tetapi karena ia juga tertarik dan merasa tertantang pada bidang tersebut.     

     Bobby...bob.. keluarlah, makan dulu sebelum ke masjid. Suara lembut supermama menyadarkan dirinya dari zona jelajah hidupnya. Sebagai anak yang terbiasa baik dan sopan, bobby menjalankan perintah super mama tercintanya. Ia makan dan pergi ke masjid untuk mendapat damai dan ketenangan meninggalkan segala keabsurdban dunia. bersama kawan kawan yang bukan sekedar kawan, selama kurang lebih 3 jam menjalani kegiatan rutin penuh makna tersebut, bobby kembali kerumah,  untuk menyelesaikan segala tugas sekolah demi kelangsungan hidup mulianya.
    Ia terbiasa memperdulikan segala hal hingga bisa dikatakan bobby adalah anak yang teratur dan terkendali. Saat bosan belajar melanda, ia mencari hal lain misalnya memainkan game offline, baca meme lucu dan membayangkan bagaimana jika patrick dan spongebob ia undang kedalam zona jelajah hidupnya sehingga memberikan ide ide brilian dari otak mereka.               
Kemudian setelah sikat gigi dan membagusi letak bukunya bobby menyerahkan seluruh tubuhnya di atas kasur beraroma forest andalannya. Tapi sebelum terlelap ia tak mau lupa untuk berdoa agar nanti saat tidur ia tidak bertemu kecoa atau kodok dan ia berharap agar bisa menjadi hulk meski hanya di dunia mimpi.                
  Bobby jarang bangun karena alarm, biasanya ia langsung mendengar kumandang azan subuh di masjid dekat rumahnya. Sehingga bisa segera melaksanakan ibadahnya di masjid dan baru akan kembali saat harus bersiap kesekolah. Hari itu hari selasa biasa, sampai disekolah langsung mengikuti apel pagi sekitar 10-15 menit dari guru yang berpiket, dan setelah di bubarkan seluruh siswa menuju kelas masing masing.

   Saat bobby berjalan menuju kelas ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang siswi yang terlihat terburu buru sambil kerepotan mengurus tasnya yang terbuka, siswi tersebut langsung saja berlalu setelah memungut pulpennya yang jatuh sambil berkata sorry sorry.    Bobby malah masih terpaku menatap keheranan pada sikap siswi tersebut, pikirnya anak itu sedang ketinggalan antrean tandatangan album terbaru artis idolanya. Beberapa detik kemudian saat hendak menuju kelas bobby melihat sebuah buku kecil bersampul merah maroon dan langsung saja memungutnya seraya berjalan ke kelas. Ia tidak sempat membuka dan meneliti pemilik tapi tebaknya itu adalah buku si anak yang ketinggalan antrean tadi.         
      Sepulang sekolah barulah ia dapat memikirkan buku tersebut setelah mengerjakan kegiatan biasa seperti makan, mandi, solat dan nonton. Ia sebernarnya tak begitu penasaran pada buku kecil itu karena memang tak terlihat menarik, tapi tetap saja harus ia kembalikan kepada pemilik yang mungkin sangat memerlukan. Bobby langsung saja membuka lembar pertama, sambil tertawa ia berkata "ini apa, tulisannya masyaalloh, sengaja kali ya. Kreatif, hebat, respect, haha..". Di lembar pertama isinya cakaran tak berujung, entah di tulis sengaja atau lagi kesel atau memang kualitas tulisannya jelek.        
Ia meninggalkan sejenak buku itu karena tak tahan menahan lawakan sederhana nya, kemudian kembali melihatnya sebelum tidur, "mungkin identitas ada di akhir buku kan.." dan ia pun mencari nama pada lembar akhir tapi tetap tidak ketemu, malah gambar kucing beserta suaranya yang ia lihat. "Masa harus ku buka satu persatu lembaran buku ini?, Sudahlah aku tak perduli" keluh bobby sambil kemudian meletakkan buku itu di rak atas, dan tiba tiba terjatuh selembar kertas yang berisi gambaran, bobby memungut dan menelaah gambaran itu, "Gambarannya ga buruk, ini hasil tangannya? Beda sekali dengan cakaran halilintar di depan.." komentar bobby kemudian berlanjut pada penelitian siapa orang dalam gambaran tersebut, karena terlihat tak asing ia mencoba memastikan, "badan tinggi proporsional, pake topi hingga mata tak nampak, t-shirt gombrang lengan pendek, celana cingkrang dan sepatu sport yang ku kenal. Kalau tebakanku benar, aku harus ngomong apa? Aku benar benar tak mengerti" Belum sempat ia lontarkan tebakan, sudah ia temuakan petunjuk yang sangat jelas, BOBBY tertulis dengan huruf hijayyah yang ia mengerti. Bobby kemudian memutuskan untuk bergegas tidur dan meninggalkan sejumlah pertanyaan yang belum siap ia telusuri.     

       Besoknya saat di sekolah, ia mencoba memperhatikan squine, siswi terburu-buru kemaren, yang ia pikir adalah si pemilik buku. Tapi bobby malah lebih dulu merasa telah di perhatikan, dan ia mengingat, tidak sekali ini saja, dulu pun tak jarang, hanya saja ia tak memeperdulikan karena memang ia tak pernah merasa terggangu.
Demi alasan kenyamanan bersama bobby terpaksa mencari di inti buku, di setiap lembar, memastikan buku ini benar milik squinne, sekaligus menyadari kata pepatah "dont judge the book by the cover" karena benar buku kecil itu punya banyak hal menarik yang tak terlihat bila dari sampul. Sambil bersandar di ranjang kamarnya, ia sesekali tertawa meskipun kadang bingung dengan pembahasan buku tersebut. Ia menyimpulkan bahwa buku penting itu adalah cara pemilik untuk berbicara sesuka hati tanpa pikir seseorang akan terluka atau malah bosan terhadap topiknya. "Dia merasakan banyak hal disini, dia pernah kecewa, marah, putus asa lalu bangkit sendiri, dan tertawa bahagia serta bersyukur." Seperti itu Komentar bobby saat membaca. Bobby menyadari ada yang unik pada setiap tulisan di buku tersebut, tak ada nama, yang ada hanya tanggal dan emoticon senyum yang  garis senyumnya membentuk huruf U sempurna.                          
       Saat apel pulang berakhir, bobby berpapasan dengan squinne yang sengaja memanggilnya untuk mengatakan sesuatu, ia langsung menyadari topik apa yang akan dibahas tapi ia membiarkan squinne menjelaskan. "Kamu lihat buku kecil bersampul maroon? Saya bertanya sama kamu karena waktu itu mungkin jatuh saat berpapasan" tanya squinne lalu bobby menjawab "oo jadi buku itu benar punyamu?". "Kenapa?, Sudah kamu buka yah?" "Maaf untuk mengetahui pemilik harus dengan cara membuka kan?" Squinne terlihat menarik napas panjang lalu berkata "Kalau begitu kembalikan." Bobby malah membalas "didalam terselip gambar, ada namanya dan..." Tak habis bobby bicara, squinne langsung memotong kalimatnya dan berkata "jangan bilang kamu sudah baca seluruh isinya?" Percakapan itu langsung berakhir karena bobby ditarik oleh bonang temannya, "kita lanjutkan besok!!" Kata bobby sambil kesusahan karena ditarik oleh temannya, sementara Squine hanya terpaku menatap bobby dengan segala ucapan yang dia tahan.

Sampai dirumah, bobby membuka buku itu lagi dan membaca lembar yang aneh, tulisannya tentang seorang anak pada gambar terselip itu, yang tak lain adalah dirinya, bobby tak menyangka bisa diperhatikan oleh seseorang, terlebih lagi pada orang yang ia sadari keberadaannya. Besoknya, squine kembali menanyakan bukunya namun bobby memutuskan untuk lebih meneliti buku itu dan juga squine, artinya ia menahan sementara buku itu sampai squinne menjelaskan tentangnya. Ia tak mungkin membiarkan rasa penasarannya terus menggantung sehingga ia merasa harus melanjutkan percakapan di forum chat, dan ia terus saja penasaran tanpa tahu bagaimana rasanya menjadi squine yang Kepergok mengagumi seseorang diam diam, dengan sedikit senang dan banyakan bingung bagaimana harus bersikap, siapa tahu squinne sekarang lagi jungkir balik, koprol, kayang, atau sedang meniru gaya bulldoser lantaran situasi tak terduga yang baru saja ia alami.   

  Merasa nyaman dengan keberadaan squinne, bobby mengharapkan bahwa ia bisa berkawan baik dengan nya, bobby bahkan tak sungkan untuk mengeluh, curhat atau sekedar mengomentari hal hal yang kurang penting. Namun ada hal yang paling mengasikkan bagi bobby yaitu Bercanda dengan mengancam squinne menggunakan buku kecilnya, bayangkan bagaimana nasib squine kalau bobby membongkar tulisannya mengenai semua gambaran dan komentarnya terhadap seluruh teman kelasnya, penilaian aneh squine pada setiap insan yang berhubungan dengannya, terlebih lagi penilaian squine yang mengatakan bahwa bobby adalah anak tak dikenal yang rese, tak tahu diri dan menyusahkan, bahkan bayangannya sangat menggangu, sekali ia tersenyum maka dunia bikini bottom akan hancur, apalagi kalau sampai bobby memanggil namanya, ia tak tahu patrick akan sekonyol apa jadinya. Sejauh ini, bobby telah menyebut nama squinne dua kali dan tersenyum tiga kali, entah bagaimana kabar bikini buttom sekarang.

      Sudah beberapa minggu, squinne jarang mau menanggapi bobby dan sekaligus membuatnya bingung. Ia sampai memberikan sesi khusus dalam jelajah pikirannya, mencari tahu apakah ia sudah keterlaluan dan banyak membuat salah, apakah kemarin squinne tidak anggap ia temannya?, kemudian bobby mencari segala alasan sendiri untuk buat pikirannya tenang, membuang segala kekhawatirannya kalau kalau pertemanan yang baru saja ia mulai akan diakhiri tanpa siar siar dan alasan.

Saat itu pun bobby mengambil buku squinne dan menulis di lembar kosong buku tersebut "baru baru ini aku menyadari kamu itu mirip denganku, pengganggu pikiran orang, rese dan menyusahkan, ingat jangan pernah menatap kalau tak ingin melihat hulk jadi shy shy cat, apalagi kalau sampai lambaikan tangan sambil senyum niscaya gunung pablo akan meletus" ia terterakan juga gambar patrick sebagai squnne. Buku tersebut ia letakkan kedalam tas untuk dikembalikan pada pemilik.

     Pagi hari yang cerah datang namun ia tak sempat merasakan apa apa, baik makanan maupun firasat, yang ia pikirkan bagaimana agar cepat sampai kesekolah dengan waktu sangat sedikit. Jalanan menuju sekolahnya memang sudah setiap hari ia lalui, hanya saja entah mengapa perasaannya jadi gugup, hingga tak di sangka ia hampir menyerahkan jiwa dan raganya pada maut. Seperti sebuah adegan di film heroik, squinne yang entah dari mana, bagai malaikat dengan sigapnya menarik tubuh bobby yang seperti tak sadar terus melangkah menyebrangi jalanan dengan truck melesat didepannya. Karena situasi yang tak di inginkan itu, membuat mereka terdiam sejenak, hening, hingga mereka seperti dapat mendengar debaran jantung masing masing yang sedang melaju cepat , squinne malah terlihat lebih shock dibandingkan bobby, tangannya gemetar, dan bahkan air matanya menetes. Bobby hendak berterima kasih tapi jadi kebingungan melihat squinne sehingga ia hanya bisa berkata maaf. Squinne memalingkan wajahnya mencoba menutupi air matanya yang semakin deras mengalir "kita sudah terlambat, pagar telah terkunci" bobby sadar squinne sedang mengalihkan keadaan shocknya "maaf untuk itu, lebih baik kita tenangkan dulu perasaanmu." Bobby mengajak squinne duduk di bangku bawah pohon tak jauh dari tempatnya, dan membawakannya air mineral dari minimarket terdekat.

   Bobby menunggu squinne sedikit tenang untuk memulai percakapan tapi ia pun bingung harus mulai dari mana,
"kenapa membahayakan diri sendiri? Alhamdulillah kamu masih di qodar sehat walafiat," kata squinne yang lebih dulu berbicara.
"Iya alhamdulillah, terima kasih telah menarikku, maaf membuatmu menangis karena shock."  Jawab bobby lega melihat squinne sudah lebih tenang,
"Maafmu akan ku terima jika kamu mau berjanji untuk tidak mengulangi kecerobohanmu itu"
"Oke! Aku berjanji! Tapi btw kamu sedikit bicara kalau berhadapan langsung, cemen beraninya hanya depan hape haha bercanda!"
"Hooh, see how funny you are.., baru liat cewek nangis aja udah kaya squidword kehilangan clarinetnya, haha"
Mereka berhasil menenangkan pikiran mereka, dengan saling melontarkan candaan hingga tak terasa matahari sudah mulai menyengat wajah mereka. Bobby memutuskan untuk mengantar squinne pulang meski sebelumnya menolak tapi bobby memohon demi keselamatan dan kewajibannya sebagai gentle man.         
        
Semakin hari bobby merasa squinne adalah teman yang wajib ia pertahankan, teman yang membuatnya gugup saat berhadapan bahkan saat memikirkannya. Hingga terkadang ia punya pikiran untuk memiliki status khusus seperti orang-orang. Meskipun ia tahu betul squinne tidak menginginkannya dengan alasan yang mulia, itulah mengapa rasa suka squinne hanya ia pendam dalam buku, dan apa gunanya buku itu sekarang, semuanya telah ia ketahui.   

Sambil berbaring ia kembali masuk dalam area nyaman dan terpencil miliknya lalu menjelajah untuk menenangkan segalanya. "Aku belajar banyak darimu squinne, kau sungguh keren, kita memang anak remaja yang penuh warna yang diberi cobaan dimana mana. Aku sempat bingung dengan keluargaku yang terkadang sulit mengerti keadaanku, tapi dengan segala kekurangannya, keluarga tetap rumah kita sepanjang masa, kalau bukan saat ini kapan lagi kita belajar dan menikmati sensasi itu. Tempat kita berlagak gila dan aneh satu satunya adalah area sahabat, jangan takut kecewa karena tanpa kita sadari, batin kita telah satu jika sudah saling percaya, bersama orang orang yang mempunyai beragam bentuk masalah juga, kita bisa saling menguatkan. Persoalan dan Masalah hidup kedepannya tak harus kita selesaikan sekarang, karena waktu tanpa disuruh pun akan membantu, kita hanya perlu menjalaninya satu persatu tanpa melangkahi atau melangkari tingkatan anak tangga kehidupan yang ada, karena sangat sulit untuk memulai kembali atau bahkan tidak mungkin. Aku menjadi tahu kenapa tuhan memberikan kita cinta mulai dari remaja, agar kita banyak mempelajari sebelum waktunya tiba. Memfokuskan pada hanya satu keasikan sama saja mubasir waktu, jangan ikuti ego labil kita, sejalan dengan teori kakekku Albert Einstein *more the knowledge lesser the ego, lesser the knowledge more the ego.*

Kau sudah terlanjur jadi temanku squinne, teman masa depan, tak perlu ikatan khusus kau akan ku jaga sama seperti keluarga dan sahabatku. Kau tahu? Memendam rasa sensasinya lebih menantang dari rollercoaster terekstrem di dunia."         

      Saat bobby kelelahan dan memutuskan untuk rehat sejenak, tiba-tiba spongebob datang di hadapannya sambil tertawa, disusul Patrick yang langsung membacakan puisi emasnya yang berbunyi *roses are blue, violets are red, i have to go the bathroom* saat asik tertawa ia tersadar, bahwa sebelum tidur harusnya ia ke kamar mandi terlebih dahulu lalu berdoa.

                              
                                  
                                                            *****

Mengelola Informasi dalam Ceramah

 BAB III 1. Mengelola Informasi dalam Ceramah          Pernahkan kamu mendengar ceramah?          Apakah kamu suka ketika mendengar ceramah?...