KD.3.6 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks
editorial
IPK. 3.6.1 Menemukan struktur dalam teks editorial
3.6.2 Menentukan teks kebahasaan dalam teks editorial
3.6.3 Menyusun argumen atau pendapat terhadap isu aktual
1. Menemukan struktur dalam teks editorial
Editorial termasuk ke dalam jenis teks eksposisi, seperti
halnya ulasan dan teks teks sejenis diskusi. Dengan demikian struktur teks
editorial meliputi Pengenalan isu
(tesis), argumen, dan penegasan.
1.
Pengenalan
isu
Pengenalan isu merupakan bagian
pendahuluan teks editorial. Fungsinya adalah mengenalkan isu atau permasalahan
yang akan dibahas bagian berikutnya. Pada bagian pengenalan isu disajikan
peristiwa persoalan aktual, fenomenal, dan kontroversial.
2. Penyampaian pendapat/ argumen
Bagian ini merupakan bagian pembahasan yang berisi
tanggapan redaksi terhadap isu yang sudah diperkenalkan sebelumnya.
3. Penegasan
Penegasan dalam
teks editorial berupa simpulan, saran atau rekomendasi. Di dalamnya juga
terselip harapan redaksi kepada para pihak terkait dalam menghadapi atau
mengatasi persoalan yang terjadi dalam isu tersebut.
Berikut contoh teks
editorial:
Pengenalan isu
Zaman sekarang banyak hal memalukan yang terjadi di negara
ini seperti korupsi, suap, dan sebagainya. Anehnya, pelaku kejahatan tersebut
adalah orang pintar yang namanya berekor gelar dari universitas terkenal. {Memandang fenomena yang terjadi, agaknya
ada yang salah dengan pola pendidikan formal di sini dan harusnya sudah ada
kajian ulang.} Pola pendidikan terlalu menekankan pada ilmu duniawi
semata. Yang menghasilkan orang pintar, namun tidak terdidik ataupun memiliki
budi pekerti baik.
Argumen 1: Pendapat
Akibatnya orang pintar justru menjadi jahat, bersikap
seperti maling, menindas kaum lemah. Padahal harusnya merekalah yang menjadi
penolong dan pemimpin yang dapat memberikan manfaat bagi umat.
Argumen 2: Fakta
Banyak orang terhormat di negara ini yang tertangkap basah
melakukan tindak korupsi ataupun penyuapan. Bahkan mereka yang bergelar
pendidikan tinggi dan mengaku sebagai alim ulama, tetapi bertindak memalukan
dan merugikan sesama.
Argumen 3: Fakta
Bahkan banyak yang melakukan kejahatan ini secara
berjamaah, bersama dengan teman sejawat yang katanya juga terhormat. Mirisnya,
kala ditangkap oleh pihak berwajib, tetap saja memasang wajah tanpa dosa dan
sanggup menebar senyum. Seolah tak miliki rasa bersalah dan justru senang
dengan apa yang telah diperbuat.
Argumen 4: Sindiran
Apa mereka tidak tahu dan tak ada yang pernah mengajari
bahwa memakan uang yang bukan haknya adalah perbuatan dosa dan haram hukumnya?
Kesimpulan
Memang mereka sudah kehilangan akal dan tak lagi memiliki
urat malu. Karenanya sangat perlu untuk memperbaiki sistem pendidikan formal
yang tak hanya mementingkan hasil. Melainkan juga proses agar dapat mencetak generasi
yang cerdas dan berakhlak baik.
2. Menentukan teks kebahasaan dalam teks editorial
Kaidah kebahasaan teks editorial tergolong ke dalam kaidah
kebahasaan yang berciri bahasa jurnalistik. Berikut ini ciri-ciri dari bahasa
jurnalistik teks editorial.
1. Penggunaan
kalimat retoris.
Kalimat retoris
adalah kalimat pertanyaan yang tidak ditujukan untuk mendapatkan jawabannya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dimaksudkan agar pembaca merenungkan masalah
yang dipertanyakan tersebut sehingga tergugah untuk berbuat sesuatu, atau
minimal berubah pandangannya terhadap isu yang dibahas.
Contoh: Benarkah pemerintah tidak tahu atau
tidak diberitahu mengenai rencana Pertamina menaikkan harga elpiji?
2. Menggunakan
kata-kata populer sehingga mudah bagi khalayak untuk mencernanya.
Tujuannya
agar pembaca tetap merasa rilek meskipun membaca masalah serius dipenuhi
tanggapan yang kritis. Contoh kata-kata populer adalah terkaget-kaget, pencitraan, dan
menengarai.
3.
Menggunakan kata ganti petunjuk yang merujuk
pada waktu, tempat, peristiwa, atau hal lainnya yang menjadi fokus ulasan.
Contoh:
a.
Sungguh, kenaikan kenaikan harga itu merupakan
kado yang tidak simpatik, tidak bijak, dan tidak logis.
b.
Berdasar simpulan rapat itulah, Presiden
kemudian membuat keputusan harga elpiji 12 kg yang diumumkan pada hari minggu
kemarin.
c. Rasanya mustahil kalau pemerintah, dalam hal ini
Menko Ekuin dan Menteri BUMN tidak tahu serta tidak dimintai pandangan,
pendapat, dan pertimbangannya.
4.
Banyaknya
penggunaan konjungsi kausalitas, seperti sebab,
karena, oleh sebab itu.
Hal ini terkait dengan penggunaan sejumlah argumen
yang dikemukakan redaktur berkenaan dengan masalah yang dikupasnya.
a.
Masyarakat sebagai konsumen menjadi
terkaget-kaget karena kenaikan tanpa didahului sosialisasi.
b.
Malah boleh jadi ada politisi yang
mengategorikannya sebagai reaksi yang cenderung bersifat pencitraan sehingga
terbangun kesan bahwa pemerintah memerhatikan kesulitan nsekaligus melindungi
kebutuhan rakyat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar