Minggu, 22 September 2019

KD.3.6 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks editorial


KD.3.6  Menganalisis struktur dan kebahasaan teks editorial
IPK.     3.6.1 Menemukan struktur dalam teks editorial
             3.6.2 Menentukan teks kebahasaan dalam teks editorial
             3.6.3 Menyusun argumen atau pendapat terhadap isu aktual

1. Menemukan struktur dalam teks editorial

    Editorial termasuk ke dalam jenis teks eksposisi, seperti halnya ulasan dan teks teks sejenis diskusi. Dengan demikian struktur teks editorial meliputi  Pengenalan isu (tesis), argumen, dan penegasan.

1.       Pengenalan isu
     Pengenalan isu merupakan bagian pendahuluan teks editorial. Fungsinya adalah mengenalkan isu atau permasalahan yang akan dibahas bagian berikutnya. Pada bagian pengenalan isu disajikan peristiwa persoalan aktual, fenomenal, dan kontroversial.

2.       Penyampaian pendapat/ argumen
     Bagian ini merupakan bagian pembahasan yang berisi tanggapan redaksi terhadap isu yang sudah diperkenalkan sebelumnya.

3.       Penegasan
    Penegasan dalam teks editorial berupa simpulan, saran atau rekomendasi. Di dalamnya juga terselip harapan redaksi kepada para pihak terkait dalam menghadapi atau mengatasi persoalan yang terjadi dalam isu tersebut.

Berikut contoh teks editorial:

Pengenalan isu
   Zaman sekarang banyak hal memalukan yang terjadi di negara ini seperti korupsi, suap, dan sebagainya. Anehnya, pelaku kejahatan tersebut adalah orang pintar yang namanya berekor gelar dari universitas terkenal. {Memandang fenomena yang terjadi, agaknya ada yang salah dengan pola pendidikan formal di sini dan harusnya sudah ada kajian ulang.} Pola pendidikan terlalu menekankan pada ilmu duniawi semata. Yang menghasilkan orang pintar, namun tidak terdidik ataupun memiliki budi pekerti baik.

Argumen 1: Pendapat
   Akibatnya orang pintar justru menjadi jahat, bersikap seperti maling, menindas kaum lemah. Padahal harusnya merekalah yang menjadi penolong dan pemimpin yang dapat memberikan manfaat bagi umat.

Argumen 2: Fakta
   Banyak orang terhormat di negara ini yang tertangkap basah melakukan tindak korupsi ataupun penyuapan. Bahkan mereka yang bergelar pendidikan tinggi dan mengaku sebagai alim ulama, tetapi bertindak memalukan dan merugikan sesama.

Argumen 3: Fakta
   Bahkan banyak yang melakukan kejahatan ini secara berjamaah, bersama dengan teman sejawat yang katanya juga terhormat. Mirisnya, kala ditangkap oleh pihak berwajib, tetap saja memasang wajah tanpa dosa dan sanggup menebar senyum. Seolah tak miliki rasa bersalah dan justru senang dengan apa yang telah diperbuat.

Argumen 4: Sindiran
   Apa mereka tidak tahu dan tak ada yang pernah mengajari bahwa memakan uang yang bukan haknya adalah perbuatan dosa dan haram hukumnya?

Kesimpulan
   Memang mereka sudah kehilangan akal dan tak lagi memiliki urat malu. Karenanya sangat perlu untuk memperbaiki sistem pendidikan formal yang tak hanya mementingkan hasil. Melainkan juga proses agar dapat mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak baik.


2. Menentukan teks kebahasaan dalam teks editorial

    Kaidah kebahasaan teks editorial tergolong ke dalam kaidah kebahasaan yang berciri bahasa jurnalistik. Berikut ini ciri-ciri dari bahasa jurnalistik teks editorial.

1.       Penggunaan kalimat retoris.
Kalimat retoris adalah kalimat pertanyaan yang tidak ditujukan untuk mendapatkan jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dimaksudkan agar pembaca merenungkan masalah yang dipertanyakan tersebut sehingga tergugah untuk berbuat sesuatu, atau minimal berubah pandangannya terhadap isu yang dibahas.

Contoh: Benarkah pemerintah tidak tahu atau tidak diberitahu mengenai rencana Pertamina menaikkan harga elpiji?

2.       Menggunakan kata-kata populer sehingga mudah bagi khalayak untuk mencernanya
            Tujuannya agar pembaca tetap merasa rilek meskipun membaca masalah serius dipenuhi tanggapan yang kritis. Contoh kata-kata populer adalah terkaget-kaget, pencitraan, dan menengarai.
3.        
      Menggunakan kata ganti petunjuk yang merujuk pada waktu, tempat, peristiwa, atau hal lainnya yang menjadi fokus ulasan.

Contoh:
a.       Sungguh, kenaikan kenaikan harga itu merupakan kado yang tidak simpatik, tidak bijak, dan tidak logis.
b.      Berdasar simpulan rapat itulah, Presiden kemudian membuat keputusan harga elpiji 12 kg yang diumumkan pada hari minggu kemarin.
c.     Rasanya mustahil kalau pemerintah, dalam hal ini Menko Ekuin dan Menteri BUMN tidak tahu serta tidak dimintai pandangan, pendapat, dan pertimbangannya.
4.       
           Banyaknya penggunaan konjungsi kausalitas, seperti sebab, karena, oleh sebab itu. 
             Hal ini terkait dengan penggunaan sejumlah argumen yang dikemukakan redaktur berkenaan dengan masalah yang dikupasnya.
a.       Masyarakat sebagai konsumen menjadi terkaget-kaget karena kenaikan tanpa didahului sosialisasi.
b.      Malah boleh jadi ada politisi yang mengategorikannya sebagai reaksi yang cenderung bersifat pencitraan sehingga terbangun kesan bahwa pemerintah memerhatikan kesulitan nsekaligus melindungi kebutuhan rakyat.

 @Bahasa Indonesia kelas XII, kemendikbud RI 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengelola Informasi dalam Ceramah

 BAB III 1. Mengelola Informasi dalam Ceramah          Pernahkan kamu mendengar ceramah?          Apakah kamu suka ketika mendengar ceramah?...